Sabtu, 19 Mei 2012

Sejarah Agama dan Filsafat Taoisme


Berikut akan kami informasikan tentang sejarah Agama dan Filsafat Taoisme yang kami ambil dari http://agama.kompasiana.com/2010/06/25/sejarah-agama-dan-filsafat-taoisme/  


Sejarah Agama dan Filsafat Taoisme

OPINI | 25 June 2010 | 21:13http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_baca.gifDibaca: 2380   http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/img_komen.gifKomentar: 1   http://stat.ks.kidsklik.com/statics/kompasiana4.0/images/ico_nilai.gifNihil
Oleh. Mohammad Takdir Ilahi
(Mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam UIN Jogjakarta)
Perbincangan seputar munculnya agama-agama di dunia, harus diakui tidak bisa lepas dari sejarah manusia. Sebagaihomo religious, mahluk agamis dan mahluk fitrah, maka sejarah manusia adalah sejarah agama, yaitu cara indah yang dipergunakan ummat manusia yang berbeda-beda untuk berkembang dan menuju pengetahuan yang lebih benar dan cinta yang lebih mendalam kepada apa yang dipercayai sebagai Tuhan.[1]
Dalam konteks ini, manusia memiliki kemampuan untuk memperolah kearifan dan identitas diri melalui proses spiritualitas yang dijalaninya sehingga menemukan makna dan tujuan hidup di dunia. Hal ini disadari, karena manusia dibekali dengan kekuatan akal yang mampu membawa progresifitas dalam kehidupan pribadinya, termasuk proses pencarian untuk memiliki kepercayaan tertentu terhadap agama. Tak heran, kalau Fredrich Max Muller, sebagaimana dikutip Amin Abdullah, bahwa “the real history of men is the history of religion”.[2]
Ketika sistem kepercayaan terhadap sesuatu semakin menguat, maka mereka mulai membangun basis teologi, etika, maupun konsep ajaran yang memuat kepercayaan tersebut secara transparan. Dari sinilah muncul suatu keyakinan untuk menjadikan sistem kepercayaan itu menjadi sebuah agama baru bagi mereka. Walaupun sistem kepercayaan tersebut tidak berlandaskan pada wahyu Tuhan, maupun kekuatan langit yang mengiringi perjalanan spiritual mereka, namun manusia mampu mengurai basis teologi dan ajarannya pada kepentingan seluruh ummat.
Kendati demikian, sistem kepercayaan terhadap sesuatu merupakan landasan spiritualitas yang memperkuat keyakinan seseorang untuk tunduk dan patuh dalam mengikuti segala konsep maupun nilai fiosofis dari kepercayaan tersebut. Kepatuhan manusia pada kepercayaan tertentu, dapat dipahami sebagai bentuk kebaktian dan penyerahan diri secara total kepada Sang Maha yang dianggap suci dan transendence. Melalui bentuk kebaktian ini, manusia mulai menampakkan sikap kearifan terhadap dewa-dewa yang dijadikan Tuhan di tengah-tengah kehidupan mereka.
Tulisan ini, semata-semata ingin memberikan pemahaman kepada kita semua tentang sejarah taoisme yang jarang sekali muncul dalam konteks keindonesiaan. Di samping itu, saya akan mencoba melakukan suatu analisis sintesis terhadap setting historis, konsep ajaran, filsafat, maupun relevansinya dengan faham-faham kepercayaan yang tergolong taoisme.
Secara sederhana, saya akan menguak sejauhmana progesifitas taoisme dalam memberikan jalan petunjuk dan keharmonisan alam kepada manusia, sehingga memperkuat keyakinan seseorang dalam mengikuti berbagai cara pandang pemikiran taoisme tentang alam dan manusia. Hal ini disadari, karena taoisme memiliki konsep dan ajaran yang banyak diadopsi oleh agama lain di dunia, termasuk Hindu, Kristen, Budha, dan agama lain, yang turut mewarnai kemunculan taoisme dalam percaturan sejarah ummat manusia.
Hemat saya, kajian tentang taoisme dalam ranah agama-agama menjadi topik yang cukup menarik, mengingat sejarah perjalanan taoisme yang pernah kita baca penuh dengan pesan-pesan kebajikan dan tuntunan hidup bagi ummat manusia. Sebagai pemerhati filsafat China, saya memahami taoisme sebagai sebuah jalan keutuhan, keseimbangan, dan keserasian. Sebagaimana agama-agama lain, taoisme turut serta dalam memberikan sumbangan pemikiran tentang harmonisasi alam semesta dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip keseimbangan alam guna mencapai kedamaian dunia. Itulah sebabnya, taoisme lebih bersifat filosofis ketimbang agamis, karena memang taoisme merupakan jalan untuk menciptakan dan mengarahkan perubahan, bukan sebaliknya menentang dan meresistensi perubahan itu sendiri.
Berangkat dari analisis inilah, maka saya mencoba mendiagnosakan konsep kunci dan pemikiran dalam taoisme yang lebih substansial dan integral, sehingga kita bisa mencerna seluk-beluk pemahaman tentang jalan hidup yang diyakini mampu menciptakan kesadaran universal bagi ummat manusia. Sejarah telah mencacat, bahwa pemikiran tentang taoisme erat kaitannya dengan mutiara-mutiara hikmah yang dapat kita petik sebagai pelajaran yang mencerahkan dalam lapisan-lapisan primordial pemikiran manusia. Kita menghendaki adanya suatu kebajikan yang mampu mengubah situasi sulit menjadi lebih mudah, dan karena itu dibutuhkan jalan kesederhanan guna menumbuhkan kesadaran imajiner dalam pikiran manusia itu sendiri.
Dengan menjelajahi tradisi taoisme yang sangat komplek ini, kita akan menggali bagaimana orang-orang bijak pada zaman dahulu menguraikan dan menafsirkan keberadaan kita dan menyatuka kita kembali pada sumber-sumber yang abadi, yakni tao itu sendiri. Sebagai sebuah jalan yang memiliki energi dahsyat, Tao layak dipelajari dan dikaji secara lebih mendalam, mengingat di dalamnya terbingkas pesan spiritual yang mengandung nilai-nilai filosofis bagi terciptanya kedamaian dunia.
Walaupun kita menyadari bahwa akar Taoisme berasal dari ribuan tahun yang lampau, akan tetapi pengetahuan yang selama berabad-abad ini, ternyata tetap memiliki manfaat yang besar bagi dunia modern sebagaimana halnya pada dinasti Tang. Bagi saya, ajaran kunci Taoisme telah mengubah wajah dunia yang kelam dan banal menjadi lebih lunak dan kontekstual, sehingga penganutnya pun merasakan suatu kedamaian dan kejernihan pikiran yang tak terbayangkan. Pendek kata, kekuatan utama ajaran Taoisme dalam mewarnai sejarah panjang kehidupan manusia adalah terletak pada keseimbangan dalam menjaga keharmonisan alam dan pikiran bawah sadar manusia, sehingga tercipta bangunan spiritualitas yang egaliter dan merakyat.
Itulah sekilas dan sekelumit tentang pentingnya menelusuri jejak-jejak perjalanan Taoisme yang berkibar di negeri China. Sepenggal analisis yang telah saya kemukakan dalam bab pendahuluan ini, kiranya bisa membuka cakrawala kita dalam memahami ajaran-konsep kunci Taoisme itu sendiri. Tidak berlebihan kiranya bila pada pembahasan selanjutnya, kita akan lebih luas mengkaji berbagai pandangan dan argumentasi tentang kebajikan tertinggi dalam Taoisme, sehingga dapat direfleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Itulah sebabnya, tema Taoisme sangat relevan dan urgen untuk kita kaji lebih mendalam agar pengetahuan dan wawasan kita mengenai sejarah agama-agama (religions historical) di negeri Sung Gu Kong ini dapat bermanfaat bagi pengembangan lebih lanjut terkait perbandingan agama.
Sejalan dengan itulah, Taoisme kembali mengajarkan akan pentingnya relasi manusia dengan alam, terutama menyangkut harmonisasi alam itu sendiri. Secara transparan, saya akan menyajikan perbincangan seputar Tao ini pada kerangka analisis yang lebih memukau hingga pada akhirnya kita bisa menemukan intisati dan hikmah yang terefleksi dalam ajaran Tao itu sendiri. Dengan kata lain, saya akan berupaya membawa pembaca pada analisis historis, sosiologis, dan filosofis dalam meneropong jejak-jejak Taoisme itu sendiri. Untuk itulah, demi memperjelas akar persoalan dalam penulisan makalah ini, terlebih dahulu saya akan memberikan rumusan masalah dari berbagai varian kajian yang masuk dalam konteks ajaran Taoisme itu, sehingga kita bisa menemukan inti persoalan yang akan dikaji dan jawaban atas masalah itu dapat dicerna dengan mudah.
B. Menakar Sekilas Sejarah Kelahiran Taoisme
Agama Tao atau yang lebih mudah kita kenal dengan Taoisme merupakan agama yang berasal dari Tiongkok. Dari data-data yang ada, maka Agama Tao termasuk agama yang tertua di dunia ini, umumnya diakui sudah ada sejak 7000 tahun yang silam, dan juga merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar orang Tionghoa. Data ini tertuang dari tulisan Lu Xun seorang budayawan kondang, dimana beliau menulis bahwa agama Tao adalah agama dan akar utama dari kebudayaan Tionghoa. Tidak heran bila pada akhirnya, agama Tao sampai saat ini masih menjadi agama yang banyak dianut oleh masyarakat Tionghoa.
Akar historisnya, memang harus diakui bahwa di Tiongkok, Taoisme merupakan salah dari apa yang dinamakan “tiga ajaran” (bersama-sama dengan Buddhisme dan Konfusianisme). Taoisme mengalami perubahan secara bertahap secara perlahan dan merupakan penyatuan yang terus menerus antara berbagai macam aliran pemikiran kuno di Cina. Perpaduan dari berbagai macam aliran pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal munculnya ajaran Taoisme di tengah-tengah masyarakat Tionghoa yang memiliki kekayaan budaya melimpah.
Kendati demikian, kita tidak bisa memastikan secara detail bagaimana kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan Taoisme ini dalam mengarungi sejarah peradaban ummat manusia. Kita juga tidak mengetahui tanggal yang pasti mengenai kelahiran Taoisme, dan tanda-tanda keberadaan unsur-unsur luar yang diserap tidak pernah lenyap darinya. Apabila kita memandang unsur-unsur luar yang memperkaya Taoisme (yang diperoleh melalui inspirasi-inspirasi baru), maka kita akan melihat betapa terbukanya agama ini. Sebuah agama yang memberikan kebebasan kepada pemeluknya agar senantiasa memperteguh keimanan dengan jalan menjaga keharmonisan hati dan pikiran, sehingga bisa diaktualisasikan dalam konteks relasi dengan alam semesta.
Seiring dengan waktu, Taoisme terus berkembang dan mulai menampakkan kegigihannya dalam menciptakan keharmonisan dan kedamaian dunia. Tidak mengherankan, bila Taoisme disebut sebagai agama yang selalu mengalami perkembangan dan evolusi, sehingga selain sulit untuk menentukan waktu kelahirannya, juga sulit untuk menentukan batas-batasnya. Itulah sebabnya, Livia Kohn (1991)[3] mengatakan bahwa Taoisme tidak pernah merupakan suatu agama yang terpadu, dan terbentuk dari kombinasi (berbagai) ajaran yang didasarkan atas beraneka macam sumber asli. Dengan kata lain, Taoisme bukanlah agama yang teraksentuasi pada satu titik ajaran semata, melainkan merupakan perpaduan dari ajaran-ajaran sebelumnya yang telah berkembang dan menjadi bagian dari sumber-sumber asli kebudayaan Cina.
Secara kebetulan, kita memang tidak tahu pasti kelahiran Taoisme dalam sejarah peradaban ummmat manusia, namun untuk mengetahui asal muasalnya kita dapat kembali pada 5000 tahun yang lalu, tatkala sekelompok suku berdiam di tepi Sungai Kuning (Huang He) di Tiongkok Utara. Suku bangsa ini masih belum memiliki identitas kebangsaan. Mata pencaharian sehari- hari mereka adalah berburu, memancing, memelihara ternak, serta bercocok tanam gandum dan padi-padian.
Pada masa itu mereka masih harus menaklukkan kekuatan-kekuatan alam, seperti amukan Sungai Kuning atau hewan-hewan buas yang memangsa ternak mereka. Legenda menyebutkan mengenai pemimpin-pemimpin mereka (kepala suku) yang memiliki kekuatan gaib luar biasa, di mana pemimpin-pemimpin tersebut mampu menaklukkan kekuatan gaib serta banjir Sungai Kuning. Pemimpin itu adalah bernama Yu yang dianggap memiliki kekuatan luar biasa dalam mengatasi berbagai bencana yang datang secara tiba-tiba.
Legenda mengatakan bahwa Yu tidak memiliki ibu dan ia muncul secara langsung dari tubuh ayahnya yang bernama Kun. Saat itu Kun ditugaskan oleh pemimpin suku bernama Shun, untuk menanggulangi banjir Sungai Kuning. Ketika gagal Kun dihukum mati dan mayatnya dibiarkan tergeletak pada sisi gunung. Sementara itu selama tiga tahun, Yu berada dalam tubuh ayahnya yang sudah meninggal. Ajaibnya, ternyata Kun dapat hidup kembali dan menjelma menjadi seekor beruang coklat, ia membelah perutnya sendiri dan mengelurkan putranya, yang bernama Yu.
Legenda-legenda yang dihubungkan dengan Yu memperlihatkan bahwa ia merupakan seorang shaman. Mircea Eliade dalam studinya mengenai shamanisme menyebutkan hal-hal berikut, yang merupakan pengalaman spiritual umum seorang shaman: terbang ke langit, melakukan tarian untuk mendatangkan kekuatan (seperti yang dilakukan dukun Indian Amerika serta suku-suku di Afrika), penerimaan pesan- pesan dari para makhluk suci, kemampuan untuk berbicara dengan hewan, kekuatan atas unsur-unsur alam, penyembuhan, serta pengetahuan mengenai tanaman obat-obatan.
Berangkat dari akar kelahiranTaoisme yang menuai perdebatan ini, saya akan mencoba menelusuri lebih mendalam terkait dengan penggunaan nama Tao sebagai organisasi keagamaan bagi masyarakat Tionghoa. Di sadari atau tidak, kemunculan Taoisme di tengah-tengah masyarakat Tionghoa, ternyata telah memberikan perubahan dan warnai yang berbeda dalam konteks keberagamaan mereka, sehingga misteri spiritualitas yang mereka anut pun berubah sekita manakala ajaran Taoisme berkembang pesat dan menjadi bagian dari kegiatan keagamaan bagi masyarakat secara menyeluruh.
Tidak heran, bila agama Tao atau Taoisme diyakini berasal dari Kaisar Kuning (Wang Di), yang kemudian dikembangkan langsung oleh Lao Zi dan terorganisasi menjadi sebuah institusi Keagamaan (Agama Tao) yang lengkap oleh Zhang Tao Ling. Pergulatan pemikiran yang berkembang ketika itu, secara perlahan-lahan bisa mempengaruhi aktifitas keagamaan masyarakat Tionghoa sendiri. Bila ditelisik secara lebih seksama, ternyata dibalik kekuatan ajaran Taoisme, mengandung unsur-unsur keharmonisan dan keselarasan yang mampu menciptakan tatanan sosial yang lebih mencerahkan. Kekuatan ajaran yang terrefleksi dalam bingkai Taoisme, secara tidak langsung juga memberikan pengaruh pada sikap dan perilaku kemanusiaan masyarakat sehingga nilai substantif yang terkandung di dalamnya membawa perubahan besar bagi penganutnya.
Perjalan sejarah yang panjang ini, membuat Taoisme mulai dirilik oleh masyarakat sekitar sehingga cakrawala pemikiran yang tersirat dari pesan-pesan dasar Taoisme mengakar kuat dengan perlahan dan menjanjikan. Taoisme selain telah berjasa dalam menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat di Tiongkok selama beribu-ribu tahun, ia juga telahmemberikan banyak sumbangan terhadap kemajuan sastra, budaya, ilmu astronomi, ilmu pengobatan, filsafat dan cara berpikir masyarakat Tionghoa dimanapun mereka berada.
Pada jaman FU XI sekitar tahun 5000 SM, FU XI telah menggunakan teori dan perhitungan BA-KUA (Delapan Penjuru) untuk menjelaskan tentang sistem Astronomi, menentukan hal-hal yang penting yang berhubungan dengan ramalan kehidupan seseorang, serta menentukan cara-cara ritual penyembahan Dewa/Dewi.
Sampai pada jamannya Wang Di (Kaisar Kuning) 2698 SM, mulai dikemukakan teori tentang kaidah-kaidah alamiah dan teori tentang masalah kehidupan dan kematian. Wang Di juga merupakan tokoh yang pertama menjalankan pemerintahannya berdasarkan ajaran Tao. Pada jaman Dinasti Kerajaan Chow, muncul seorang bijaksana yang mempunyai nama besar yaitu Lao Zi. Beliau pernah bertugas sebagai pejabat yang menjaga dan merawat perpustakaan buku-buku yang dimiliki kerajaan Chow. Karena itu, beliau mempunyai kesempatan untuk membaca semua buku-buku dan menguasai teori-teori yang diajarkan oleh Wang Di.
Ini membuat beliau sangat menyanjung keagungan alam yang telah menghidupi semua makhluk hidup, termasuk manusia, namun beliau juga mengajarkan bahwa dibalik semuanya itu pasti ada yang menciptakannya yang bersifat maha Agung; maha Mulia dan maha Esa, hanya saja sulit bagi beliau untuk memberikan sebutan atau nama yang tepat bagi Pencipta Alam Semesta yang maha Besar ini.
Akhirnya Laozi meminjam kata “Tao”, untuk memberi nama bagi “sumber” dari segala sesuatu yang tercipta di alam semesta ini. Menurut Lao Zi, Tao adalah sumber terciptanya segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini. Cara berpikir beliau jauh melampaui jamannya ketika itu, ditambah ajaran-ajarannya yang menjunjung tinggi kebajikan dan menentang kebiadaban, maka akhirnya ajaran Lao Zi bersama-sama ajaran Wang Di dikenal orang sebagai ajaran Wang-Lao (Wang-Lao Tao/ Filsafat ajaran Wang Di dan Lao Zi) sampai sekarang.
C. Melacak Tokoh-Tokoh Taoisme
Sekarang tiba saatnya, saya memaparkan tokoh-tokoh Taoisme yang sangat berpengaruh pada kemajuan peradaban dan kebudayaan masyarakat di Cina. Sebagai sebuah ajaran dan pemikiran keagamaan, Taoisme layak ditempatkan secara seimbang dalam potret sejarah agama-agama di dunia. Demikian halnya dengan tokoh pendiri dan pencetus ajarannya yang dianggap fenomenal dan mewarnai peradaban ummat manusia.
Bila kita mengacu pada sejarah peradaban dunia, ternyata pendiri utama Taoisme adalah Lao Tzu (lahir 604BC) kemudian dilanjutkan oleh Chuang Tzu. Dalam perkembangannya, Taoisme kemudian membangun kuil-kuil suci sebagai tempat beribadat. Selain itu meja sembahyang disebut juga tempat suci, selain kuburan. Ajaran Taoisme ditulis Lao Tzu dalam “Tao Teh Ching” (Jalan dan kekuatannya). Dengan kata lain, Taoisme merupakan sebuah ajaran yang diberikan oleh seseorang yang pada saat itu disebut seorang nabi yaitu nabi Lao Tzu.[4]
Lao Tzu lahir di Cheu, yang secara harfiah berarti “negara segala penjuru” (state of Everywhere). Dalam artian, bahwa pemaknaan secara harfiah ini mengindikasikan adanya satu anggapan bahwa Lao Tzu memang diutus untuk menyelamatkan peradaban manusia dari angkara murka dan kerasukan. Tidak heran, bila ahli sejarah cina, Ssu-ma Ch’ien (145-86 SM), menyatakan bahwa identitas dan sejarah pribadi Lao Tzu masih misterius, seperti Tao itu sendiri. Menurut legenda yang beredar, Lao Tzu dilahirkan dalam keadaan tua, ia mendekam di rahim ibunya selama enam puluh tahun. Ia tinggal di Bramble Lane dan bekerja sebagai juru arsip di perpustakaan kerajaan. Confusius yang lebih muda lima puluh tahun dari Lao Tzu sering meminta nasihat kepadanya dan menanggapinya sebagai sumber kebijaksanaan yang paripurna. Setelah beberapa tahun tinggal di kota, Lao Tzu merasa kecewa atas fenomena korupsi di sekelilingnya.[5]
Sebelum melewati gerbang barat laut, Lao Tzu mengajarkan kepada penjaga gerbang ajaran-ajarannya yang berbentuk syair, yang ia namakan sebagai Tao Te Ching, dan sungguh beruntung bagi generasi-generasi berikutnya, penjaga gerbang tersebut menulis kembali ajaran-ajarannya yang ia dengar. Penjaga gerbang sangat terkesima oleh apa yang ia dengar kemudian memutuskan untuk menyertai perjalanan Lao Tzu, dan meninggalkan catatan-catatan tersebut di belakang. Lao Tzu menghilang dan tidak pernah ditemukan kemana arahnya. Ada yang mengatakan bahwa ia keluar dari agama Buddha dan riwayat lainnya ia menjadi Buddha. Keyakinan Taoisme akan potensi keabadian yang didasarkan pada hilangnya Lao Tzu masih bertahan sampai sekarang.
Manusia dalam pandangan Taois adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan oleh Tao dan manusia perlu mengalami perubahan yang harmonis dengan alam. Jalan keselamatan dalam Taoisme adalah sikap berdiam diri secara pasif dan perenungan, kontemplasi dan meditasi mistik dan “usaha penyatuan dengan Tao yang tidak bernama”. Bila semula para pengikut Taoisme lebih bersifat usaha pencarian secara pribadi dalam perkembangan berikutnya mereka membentuk kelompok religi dengan kuil-kuil dan patung-patung. Semula ajaran Taoisme bersifat filosofis[6], tetapi kemudian ajaran ini berkembang menjadi mistis dan magis dengan upacara-upacara yang bisa menjurus pada tahayul, bahkan aktifitas keagamaan mereka semakin kental dan menjadi bagian utuh dari ajaran Taoisme itu sendiri.
Selain Lao Tzu, tokoh kenamaan Taoisme adalah Chuang Tzu yang sangat bijak dan mampu menampilkan metafora-metafora mistis dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Cina. Tidak heran bila kita beralih pada tokoh yang disebut Chuang Tzu “empu Chuang”, kiranya analisis historis kita akan mempunyai dasar dan landasan yang kuat guna memperjelas tokoh-tokoh Taoisme yang sangat kontributif bagi pengembangan ajaran-ajaran suci dalam agama tersebut. Dalam sejarah peradaban dunia, ia dilahirkan di suatu tempat di Cina Tengah yang kini terdapat di provensi Hanoi.
Kita memang harus mengakui bahwa Chuang Tzu memiliki sikap bijak dalam memimpin dan memberikan pemahaman kepada masyarakat, sehingga ajarannya dapat diterima dengan mudah. Perlu diketahui, Chuang Tzu adalah tokoh Taoisme yang tidak mudah terbuai oleh jabatan sebagai penguasa waktu, bahkan ketika diminta untuk menjadi perdana menteri, ia pun menolaknya dengan tegas.[7] Bagi saya, sikap Chuang Tzu merupakan potret pemimpin yang patut diteladani, karena secara jenawa ia bisa menjaga wibawanya sebagai pemimpin spiritual, bahkan kecerdasannya dalam mengayomi masyarakat semakin membuktikan bahwa ia adalah tokoh penting dalam ajaran Taoisme. Selain itu, Chuang Tzu memiliki pemahaman dan penafsiran bahwa orang-orang yang mengikuti Tao berarti ia memiliki tubuh yang kuat, dan berpikir jernih serta mampu menciptakan kesadaran ilmiah yang membantu cakrawala masyarakat pada satu kesatuan yang utuh sehingga nilai-nilai filosofis dalam ajaran Tao itu bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat Cina.
D. Penafsiran Kitab-Kitab Taoisme
Sebagai sebuah ajaran yang mengandung unsur-unsur filosofis dan metafisis, Taoisme diwadahi oleh sebuah kitabsuci yang bisa menuntut pemeluknya dalam memahami arti penting kehidupan ini. Adalah Lao Tzu yang pertama kali menulis kitab yang dikenal dengan Tao Te Ching. Kitab ini bila kita terjemahkan memiliki makna “aturan mengenai Jalan dan Kebajikan”, sehingga pemeluknya pun bisa mengamalkan ajaran-ajaran yang tertuang dalam kitab suci tersebut. Kitab Tao Te Ching secara sederhana mengungkapkan berbagai pesan yang penuh damai dan harmoni bagi perjalanan ummat manusia.
Lebih tepatnya, kitab ini berisi sebuah karya ringkas, hanya 5000 kata yang tersirat di dalam surat-surat yang diberikan kepada sang penjaga gerbang tersebut. Namun, selama berabad-abad ia memiliki pengaruh yang mendalam bagi banyak orang, beratus penterjemah, dan tafsir Tao Te Ching terus menerus ditulis. Pada Tahun 1973, versi lainnya di temukan di gua Ma-wang-tui, China tengah, yang bertanggalkan 168 SM, edisi tertua yang beredar bab pada naskah yang ditemukan di Ma-wang-tu berbeda dari tafsir-tafsir tradisional. Dan hingga sekarang ajaran-ajaran Tao ini telah tersebar di mana-mana hingga penjuru dan di seluruh pelosok dunia pasti ada yang mengikuti ajaran-ajaran Tao meskipun hanya sedikit.[8]
Maka dari itu Tao sendiri juga mempunyai kitab suci yang dinamakan Tao Tee Cing juga yang tadi telah disebutkan bahwa Lao Tzu memberikan surat yang berisi ajaran-ajaran yang terdiri dari 5000 kata. Dalam 5000 kata itu kita diberikan sebuah ajaran yang bertema “Dari isi kembali isi dan dari kosong kembali kosong.” Yang pada intinya mengajarkan pada kita bahwa kita harus mensyukuri segalanya yang telah diberikan oleh Tuhan.
Pada titik inilah kitab Tao Tee Ching ini mengandung unsur-unsur kebijakan yang sangat luas dan memberikan pesan-pesan moral bagi masyarakat Tionghoa. Dengan kata lain, Taoisme adalah sumber segala sesuatu. Ia tak bernama, tak dapat dilihat, dan tidak dapat dipahami. Ia tak terbatas dan tidak dapat habis atau musnah. Apa yang disebut dengan Tao ini, telah mengatasi segenap perubahan dan permanen. Pengertian mengenai Tao tersebut terdapat pada kutipan berikut ini, bahwa Tao yang dapat dibicarakan, bukanlah Tao yang sebenarnya atau yang abadi; dan nama yang dapat diberikan, bukanlah nama yang sejati.
Lao Zi mengakui bahwa nama “Tao” merupakan sesuatu yang terpaksa. Beliau berikan. Kata-kata dan bahasa memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan suatu Kebenaran sedangkan, sehingga Kebenaran Sejati atau Terunggul tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ataupun bahasa. Mencoba memahami Kebenaran Terunggul dengan menggunakan kata- kata yang terbatas tersebut hanya akan menimbulkan penyalah-tafsiran. Dengan kebijaksanaan yang tinggi Beliau mengetahui, bahwa Tao sebagaimana nama yang diberikan tersebut, adalah sumber dari segala benda dan makhluk.Tiada nama, itulah kondisi permulaan terjadinya Langit dan Bumi. Setelah ada nama itulah sumber dari segala benda.
Meskipun Tao adalah sumber dari segala sesuatu yang hidup, ia bukanlah suatu dewa atau roh. Pandangan ini cukup berbeda dengan pandangan shamanistik mengenai alam semesta. Menurut Tao Te Cing, langit, bumi, sungai, dan gunung gunung merupakan bagian dari suatu kekuatan yang lebih besar dan mencakup semuanya. Kekuatan ini yang dikenal dengan istilah Tao, dimana ia merupakan sesuatu kekuatan tak bernama serta berada di balik bekerjanya alam semesta.
Meskipun demikian Tao Te Cing mencatat bahwa Tao ini tidak sepenuhnya netral, pada bab 25 dan 81 disebutkan bahwa Tao ini bertujuan untuk memberikan kebaikan pada yang lainnya dan tidak menimbulkan bahaya.”Jalan Langit adalah bertujuan memberikan keuntungan pada yang lainnya dan tidak menyebabkan bahaya. Beberapa penafsiran lain mengenai buku Tao Te Ching, diantaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, Taoisme Rakyat. Taoisme rakyat merupakan aliran kepercayaan yang telah merakyat dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, maka aliran ini kemudian mengalami perkembangan yang begitu pesat karena telah merakyat tadi. Namun, Taoisme rakyat ini kemudian menjadi tidak murni lagi ketika banyak sekali orang awam memahami hal tersebut dengan berbeda. Karena banyak sekali penafsiran dan jamahan oleh orang-orang, maka Taoisme rakyat tak lagi menjadi pedoman yang paling murni dalam ajaran Taoisme. Menurutnya sebuah ajaran merupakan suatu konsep yang terlalu halus untuk dapat ditangkap oleh pikiran atau jiwa yang rata-rata saja.
Kedua, Taoisme Esoterik. Gaya tarik jenis Tao ini adalah terletak pada segi batiniah manusia yang dilawankan dengan segi lahiriahnya. Manusia baik dapat dilihat dari apa yang dikatakannya, perbuatannya, dan perasaan lahir yang ditunjukkannya, maupun segala sesuatu yang ada di dalam dirinya seperti perasaan pada dirinya. Taoisme Esoterik ini muncul ketika alam pikiran Cina menemukan dimensi batiniahnya dan terpesona olehnya.
Ajaran Tao ini selalu mengedepankan kesenangan alam rohani yang begitu indah. Menurut ajarannya bahwa kehidupan ini selalu berlumuran dengan keresahan dan penderitaan. Oleh karena itu, maka mereka beranggapan bahwa dunia rohaniahlah yang bisa menyelesaikan masalah penderitaan dan keresahan yang disebabkan oleh dunia. Setelah manusia merasakan dan menelurusi kehidupan yang begitu susah, maka seseorang kemudian baru dapat mencapai apa yang disebut dengan kesadaran murni. Jiwa yang murni hanya dapat dikenal dalam kehidupannya yang terhias dan tanpa noda, hanya jika segala sesuatu telah bersih barulah ia menampakkan dirinya, karena itu, diri sendiri disembunyikannya dan emosi yang mengganggu harus dimusnahkan.
Puncak pemahaman dalam Taoisme Esetorik tercapai bersamaan dengan dampak finalitas, bahwa segala sesuatu akhirnya kembali ke tempatnya. Keadaan tersebtu, tidaklah dapa digambarkansebagai sekedar sesuatu yang menyenagkan. Persepsi alngsung tentang sumber kesadaran seseorang sebgai kessadaray nyang tenagn dan mantap.
Ketiga, Wei Wu Wei (Keheningan yang Kreatif). Sifat dasar kehidupan yang selaras dengan alam semesta adalah wu wei. Konsep ini sering diterjemahkan sebagai tidak berbuat apa-apa atau tidak bergerak. Tetapi jika terjemahan itu berarti suatu sikap yang kosong atau menahan diri secara pasif, maka pengertian tersebut tidak tepat.
Wei wu wei adalah ungkapan paradoksal yang merupakan kunci mistisisme Cina dan tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Wei artinya berbuat, bertindak, tetapi kadang berarti lain, tergantung cara mengatakannya. Wu artinya negatif, tidak, tanpa. Terjemahannya secara maknawi ialah “Berbuat tanpa bertindak”. Dikenakan pada seseorang berarti diam, tenang, pasif, pasrah sehingga mencapai Tao, hakekat terakhir, alam wujud. Artinya bertindak melalui Tao tanpa upaya kesadaran diri. Juga berarti hanyut dalam persatuan dengan alam, yang dengan itu memperoleh kesadaran semesta.
E. Interpretasi Jalan Tao
Sekelumit cerita tentang sejarah panjang Taoisme belum cukup kiranya bila kita mengabaikan penafsiran tentang Tao itu sendiri. Pemaknaan terhadap istilah Tao dapat memperkuat pemahaman kita dalam menelusuri pesan yang tersirat di dalamnya, sehingga kita bisa mencerna dan merenungkan makna kehidupan ini. Itulah mengapa, penafsiran Tao dapat dijadikan sebagai jalan menuju keabadian dan kesempurnaan hidup yang terpancar dalam hati dan perbuatan, sehingga menciptakan keharmonisan bagi sesama dan alam semesta.
Sejalan dengan itu, penafsiran Tao dapat membawa kita pada satu pandangan yang lebih menjanjikan guna menyikapi kompleksitas kehidupan yang semakin tidak karuan. Maka, ajaran Tao lahir untuk merespon ajaran Confucius yang berpusat pada moralitas, masyarakat dan politik. Keharmonisan dengan alam dapat dicapai melalui jalan yang disebut dengan Tao, sehingga memperkaya khazanah kebudayaan Cina itu sendiri.[9]
Sebagaiman diketahui sebelumnya, istilah Tao lazimnya berarti suatu jalan atau suatu cara bertindak. Dengan kata lain, istilah Tao mengacu pada keseluruhan segala sesuatu yang setara dengan apa yang oleh sejumlah filosuf Barat disebut “yang mutlak”. Tao merupakan landasan dasar yang menyusun segala sesuatu dan oleh karena itu bersifat sederhana, tanpa bentuk, tanpa hasrat, tanpa upaya dan berpuas diri sepenuhnya. Tidak heran, bila Tao sudah ada sebelum adanya langit dan bumi. [10] Dengan kata lain, bahwa keberadaan manusia di dunia sangat ditentukan oleh elemen dasar terkait rentang waktu penciptaan benda-benda dan lembaga-lembaga dari masa ke masa, sehingga manusia semakin jauh dari keberadaannya yang pertama kali.
Berangkat dari pemahaman inilah, maka saya mencoba menelisik sekilas tentang makna Tao yang kerapkali mewarnai perjalanan agama-agama di dunia. Pertama, Tao dapat diartikan sebagai jalan dari kenyataan terakhir. Dalam pengertian dan pemahaman terhadap Tao adalah pemahaman terhadap kesadaran mistik yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam kata-kata, bahkan ia mengartikannya sebagai asas yang menyusun segala sesuatu. Secara eksplisit, makna Tao memang sangat filosofis karena dicerminkan dengan jalan hidup manusia dan alam semesta.
Sekali kali saya tegaskan bahwaTao dipahami tampak sederhana, tanpa bentuk, tanpa gerak, tanpa hasrat, tanpa upaya. Ia ada sebelum adanya langit dan bumi. Karena adanya penciptaan dan berkembangnya peradaban manusia kian jauh dari Tao jalan yang benar dan penuh kebajikan spiritual. Itulah sebabnya, Tao yang dapat dibayangkan bukanlah Tao sesungguhnya. Dengan kata lain dalam semboyan Tao adalah “Mereka yang mengetahui tidak akan bicara, sedangkan mereka yang bicara tidak mengetahui”. Tao kadang merupakan kata kerja dan kata benda, misalnya dalam baris pertama sajak pertama Tao Te Ching dinyatakan, Jalan (Tao) yang dapat dijalani atau ditempuh bukan jalan abadi nama yang dapat diberi nama bukan nama yang sesungguhnya. Tao juga diberi makna sebagai Dzat Ilahiyah, yaitu keadaan sang pencipta sebelum turun ke alam penciptaan.
Kedua, Tao diartikan sebagai jalan alam semesta. Dalam pengertian yang kedua Tao diartikan untuk mengambil wujud fana’. Dan memberi tahu segala sesuatu. Ia hanya besifat rohanian. Ia menyesuaikan hakikatnya yang penuh gairah, menjernihkan kepenuhan dirinya yang tumbuh secara berlipat ganda, meredupkan kemuliaannya yang gilang gemilang, dan mengambil rupa sebagai debu. Karena pada dasarnya ia bukan benda melainkan roh, ia tidak dapat dimusnahkan. Kita juga bisa mengartikan bahwa Jalan Taobukanlah jalan yang kuno, asing, dan mistis, lebih dari pada itu Tao bersifat lintas budaya, tidak eksis, praktis, bahkan cara yang ilmiah untuk melihat dunia dan tempat kita di dalamnya. Tidak mengherankan bila praktek dan filosofisnya berlaku dalam berbagai tingkatan-fisik, emosi, psikologis, dan spiritual.[11]
Ketiga, Tao diartikan sebagai jalan bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya. Setelah memahami dan adanya kesadaran yang berdasarkan rohani atau bersifat mistik itu, maka dalam Tao kemudian memberikan solusi hidup yang harmonis dengan alam. Yang boleh dikatakan sekarang adalah seperti olah raga yoga. Dengan kata lain, Jalan Tao adalah jalan untuk memperbaiki diri dan hati kita yang terselubungi oleh sifat tamak dan rakus. Maka, Jalan Tao harus dipahami sebagai kekuatan yang membawa petunjuk, sinar putih, dan pencerahan bagi ummat manusia, sehingga potret kesuciaan dalam jiwa manusia itu bisa dilihat secara jelas.
F. Ajaran dan Konsep Kunci Taoisme
Menelisik secara lebih mendalam tentang ajaran dan konsep kunci taoisme, memang tidak semuda apa yang kita bayangkan, karena misteri ajaran Taoisme penuh dengan mistis dan metafisis sehingga diperlukan kejelihan dalam mencerna pesan-pesan bijak yang tertuang di dalamnya. Demikian pula dengan konsep-konsep utama yang terdapat dalam bingkai Taoisme yang telah berkembang sejak ribuan tahun yang lalu, dimana pemikiran dan gagasan Taoisme teraksentuasi secara lebih kental bagi kehidupan masyarakat Tionghoa.
Kalau kita cermati dalam konteks historisnya, ternyata ajaran-ajaran para master Tao bukan merupakan suatu tradisi dari kebudayaan tertentu, melainkan lebih merupakan ajaran spiritual bagi para mahluk yang membina kehidupan spiritual agar dapat hidup dengan tenang dan damai di dunia. Dimana para master Tao menjalankan pembinaan spiritual, untuk mencapai Ke-Tunggal-an Agung Tertinggi, sehingga hakikat kehidupan yang dijalaninya dapat tersentuh dalam sanubari masing-masing individu. Itulah sebabnya, pembinaan spiritual dalam ajaran Tao menjadi titik kulminasi terciptanya bangunan perilaku yang berlandaskan pada Jalan Tao itu sendiri.
Para Master Tao di zaman lampau, membina kehidupan spiritualnya dengan menjalankan kehidupan pertapaan di tempat-tempat sunyi dan sepi. Para master Tao membina ajaran Tao sebagai pedoman kehidupannya sehari-hari sehingga segala perbuatan, ucapan, dan kesadaran para Master Tao, tidak terpisahkan dari ajaran Tao. Di tempat-tempat sunyi itulah, para Master Tao berupaya mengkontemplasikan dan merenungi kehidupannya agar memperoleh anugrah dan berkah dari sang Pencipta. Tidak mengherankan bila penataan spiritual yang mereka bina ditunjukkan bagi masyarakat yang telah keluar dari kebajikan dan kemuliaan hati sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Menurut para penganut Taoisme, peradaban hedonistis dan materialistis telah merusak kehidupan manusia. Untuk memulihkan peradaban yang sedang sakit manuia perlu kembali kepada alam dan menyatu dengan alam. Walaupun banyak ajaran Tao yang telah melekat dalam tradisi masyarakat china. Tetapi saya tetap mengingatkan bahwa, “Ajaran Tao diturunkan sebagai ajaran yang harus dibina oleh para mahluk, untuk mencapai Kesempurnaan Agung Sejati. Pencapaian Kesempurnaan Agung Sejati merupakan tujuan seluruh mahluk yang memahami akan kehidupan spiritual, dan tujuan pencapaian tertinggi ini merupakan hak setiap mahluk”.
Berangkat dari peradaban yang carut marut itulah, ajaran Tao dikembangkan secara berkelanjutan agar mudah dipahami dan dikhayati oleh masyarakat dunia. Sehingga tidaklah benar bahwa ajaran Tao hanya diperuntukkan bagi masyarakat china. Walaupun pada awalnya ajaran timbul dari masyarakat china, tetapi ajaran Tao bukan hanya sebagai tradisi dari masyarakat china tetapi ajaran Tao merupakan ajaran pembinaan kehidupan spiritual bagi seluruh mahluk yang ingin terbebaskan dari segala penderitaan, dan membina kehidupan spiritual hingga Pencapaian Agung Sejati.
Dalam Taoisme kita melihat konsep yang suci yang sebaliknya dari Konghucu. Bila Konghucu lebih menekankan kehidupan di bumi, Taoisme lebih mengarahkan kepada Tao yang mutlak yang merupakan transformasi ketuhanan secara folosofis. Tao adalah prinsip semesta yang mencerminkan perubahan dan juga merupakan pola perilaku manusia (wu-wei). Tao adalah jalan realitas mutlak atau jalan alam semest‘, dan jalan yang mengatur kehidupan.[12]
Sejalan dengan itu, ajaran Taoisme berasalkan dari kata Dao yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda-benda yang ada di alam semesta. Dao yang berwujud dalam bentuk benda hidup dan kebendaan lainnya adalah De. Gabungan Dao dengan De dikenal sebagai Taoisme yang merupakan landasan kealamian. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan bersifat abadi. Keabadian manusia terwujud disaat seseorang mencapai kesadaran Dao, dan orang tersebut akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai kesadaran Dao, dan menjadi seorang dewa.
Berikut ini, saya akan menjelaskan secara rincin bagaimana ajaran Tao mempengaruhi pola hidup dan pola pikir manusia. Pertama, ajaran Tao tentang Jalan Kebajikan bagi ummat manusia. Sebagaimana diketahui sebelumnya, bahwa Tao secara harfiah berarti jalan yang dilalui seseorang dalam memaknai kehidupan ini dengan penuh kesungguhan dan ketabahan. Kita bisa mencermati pemahaman Konfucius yang memberi arti Tao sebagai jalan atau cara bertindak yang benar dan penuh kebajikan dalam kehidupan moral dan politik. Pendek kata, pengertian ini kata-kata Tao tidak mengandung makna metafisik. Namun tidak demikian pemahaman penganut Taoisme.
Bagi Lao Tze berbeda, Tao memiliki pengertian metafisik. Lao Tze, sebagai tokoh utama Taoise mengartikan Tao sebagai asas yang menyusun segala sesuatu. Ia sederhana, tanpa bentuk, tanpa gerak, tanpa hasrat, tanpa upaya. Ia ada sebelum adanya langit dan bumi. Karena adanya penciptaan dan berkembangnya peradaban, manusia kian jauh dari Tao jalan yang benar dan penuh kebajikan spiritual. Karena itu manusia semakin jauh dari kebahagiaan. Semisal, Tao ibarat kendi penuh walaupun kosong. Darinya orang dapat menimba air tak habis-habisnya dan tidak perlu mengisinya lagi. Demikian ia, begitu luas dan alam tidak terhingga. Itulah sebabnya, kita akan kembali ke akar aslinya, sehingga damai lestari. Dengan Tao seia-sekata menjadikannya baik Tao, tak terbinasakan, meski raganya lenyap dalam samudera kehidupan, namun ia akan luput dari segala gangguan.[13]
Kedua, ajaran Tao tentang Te yang berarti kebajikan itu sendiri. Penganut Taoisme menggunakan perkataan te untuk menyebut sistem falsafah atau dasar-dasar mistisismenya. Kata-kata ini sering diberi arti sebagai virtue ataukebajikan. Namun pengertian kebajikan sebagaimana dimaksud oleh filosof Taois tidak sama dengan pengertian yang dimaksud filosof Konfusianis. Kebajikan menurut penganut Taisme merujuk kepada sifat-sifat atau kebajikan-kebajikan yang bersifat alami, bukan kebajikan-kebajikan etis yang bercorak kemasyarakatan. Kebajikan-kebajikan yang bersifat alami itu disebut juga sebagai kebajikan yang bersifat asli dan naluriah, dan berlawanan dengan kebajikan-kebajikan yang ditopang oleh pandangan social dan tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang dari sekolah formal.
Sesuatu yang asli atau alami adalah sesuatu yang selalu baik sepanjang zaman dan memiliki daya tarik bagi manusia di seluruh dunia. Keaslian yang dimaksud kaum Taois ialah kesederhanaan atau kebersahajaan. Hidup bersahaja merupakan jalan yang terbaik untuk kembali kepada Tao. Bagaimana cara melakukannya.
Ketiga, salah satu ajaran Taoisme yang penting ialah mengenai kenisbian atau relativisme. Contoh kenisbian dalam kehidupan makhluq dikemukakan antara lain dalam Kitab Chuang Tze dikemukakan, “Jika seorang tidur di tempat basah, ketika bangun punggungnya akan merasa sakit dan merasa akan mati; tetapi apakah juga demikian halnya dengan seekor belut? Jika seorang mencoba hidup di atas pohon, ia tak akan sadarkan diri sebab ketakutan; tetapi apakah demikian pula halnya dengan seekor monyet?”
Kenisbian juga berlaku dalam masalah etika. “Mengenai yang betul dan yang salah, “Demikian halnya” dan “tidak demikian halnya”. Jika yang betul itu betul, maka tidak ada alasan untuk berbantah mengenai kenyataan bahwa ia berbeda dari yang salah; jika ‘demikian halnya’ benar-benar demikian halnya, mengapa kita harus berbantah mengenai apa sebab berbeda dari ‘tidak demikian halnya’? Terlepas dari apakah berbagai pendirian yang berbeda itu serasi atau tidak serasi, bukankah lebih baik kita menyelaraskannya di alam semesta yang mencakup segala-galanya, dan membiarkannya mengikuti jalannya masing-masing?” Dan kitab Chuang Tzu pun mengatakan “Mereka yang memahami keadaan kehidupan tidak akan mengupayakan sesuatu yang tak dapat diberikan kehidupan. Sementara yang memahami akan nasib tidak akan mengupayakan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuan”.[14]
G. Taoisme sebagai Filsafat atau Agama?
Para ahli filsafat di Cina sekarang ini seringkali membedakan antara Taoisme sebagai filsafat, dan Taoisme sebagai agama. Taoisme sebagai filsafat disebut juga sebagai Tao Chia, sementara Taoisme sebagai agama disebut juga sebagai Tao Chiao. Sebagai sebuah ajaran filsafat, Taoisme bersama dengan Konfusianisme dan Buddhisme mendominasi kehidupan masyarakat Cina pada abad ketiga setelah Masehi. Ketiga aliran ini disebut juga sebagai “Ketiga Ajaran” (three teachings). Di dalam masyarakat Cina kontemporer, Konfusianisme memang memiliki pengaruh yang masih besar, tetapi tidak pernah menjadi sebuah ajaran yang memiliki institusi resmi, seperti misalnya yang terdapat di dalam Taoisme.
Sebagai suatu ajaran filosofis, Taoisme didirikan oleh Lao Tzu pada abad keenam sebelum Masehi. Ajaran ini terus berkembang sampai abad kedua sebelum Masehi. Filsafat Taoisme juga terdiri dari aliran Chuang Tzu dan Huang Lao. Di dalam ajaran-ajaran awal tentang Taoisme ini, Tao dipandang sebagai “sumber yang unik dari alam semesta dan menentukan semua hal; bahwa semua hal di dunia terdiri dari bagian yang positif dan bagian yang negatif; dan bahwa semua yang berlawanan selalu mengubah satu sama lain; dan bahwa orang tidak boleh melakukan tindakan yang tidak alami tetapi mengikuti hukum kodratnya.” Sikap pasrah terhadap hukum kodrat dan hukum alam ini disebut juga sebagai wu-wei.
Di dalam masyarakat Cina kuno, filsafat dan agama belumlah dibedakan secara tegas. Sejak Taoisme mulai dikenal di dalam dunia berbahasa Inggris, pembedaan antara Taoisme sebagai filsafat dan Taoisme sebagai agama belumlah ada. Pada pertengahan 1950, para ahli sejarah dan Filsafat Cina berpendapat bahwa ada perbedaan tegas di antara keduanya, walaupun memang keduanya berdiri di atas tradisi yang sama. Marcel dan Granet dan Henri Maspero adalah orang-orang yang melakukan penelitian mendalam di bidang ini.
Memang, ada keterkaitan erat antara filsafat Taoisme dan agama Taoisme. Para filsuf Tao sendiri dianggap sebagai pendiri Taoisme, baik sebagai filsafat maupun sebagai agama. Buku paling awal yang memuat ajaran Tao ini berjudulClassic of Great Peace (T’ai-p’ing Ching) yang dianggap merupakan tulisan tangan langsung dari Lao Tzu. Dalam arti tertentu, Lao Tzu sendiri seringkali dianggap sebagai „dewa“. Ia punya beberapa julukan, seperti “Saint Ancestor Great Tao Mysterious Primary Emperor“, dan yang memiliki status sebagai “Dewa“ (The Divine) itu sendiri.[15]
Perbedaan dasar antara filsafat Taoisme dan agama Taoisme juga terletak pemahaman tentang tujuan dari keberadaan manusia itu sendiri. Para filsuf Taois berpendapat bahwa tujuan setiap orang adalah mencapai transendensi spiritual. Oleh sebab itu, mereka perlu menekuni ajaran Tao secara konsisten. Sementara, para pemuka agama Taoisme berpendapat bahwa tujuan setiap manusia adalah untuk mencapai keabadian, terutama keabadian tubuh fisik (physical immortality) yang dapat dicapai dengan hidup sehat, sehingga bisa berusia panjang.
Pada titik ini, kedua ajaran Taoisme ini berbeda secara tajam. Para filsuf Taoisme berpendapat bahwa usia panjang itu tidaklah penting. “Hanya orang-orang yang tidak mencari kehidupan setelah mati”, demikian tulis Lao Tzu di dalamTao Te Ching pada bagian ke-13, “yang lebih bijaksana di dalam memaknai hidup.” Di dalam beberapa tulisannya, Chuang Tzu menyatakan, “Orang-orang benar pada masa kuno tidak mengetahui apapun tentang mencintai kehidupan, dan mereka juga tidak mengetahui apapun tentang membenci kematian.” Lao Tzu juga menambahkan, “Hidup dan mati sudah ditakdirkan -sama konstannya dengan terjadinya malam dan subuh manusia tidak dapat berbuat apapun tentangnya.”[16]
Jelaslah bahwa para filsuf besar Taoisme menyatakan bahwa orang tidaklah perlu untuk memilih antara kehidupan atau kematian. Alih-alih hidup di dalam keresahan di antara keduanya, orang harus melampaui perbedaan di antara keduanya. “Sikap transenden dari filsafat Taoisme terhadap hidup dan kematian”, dan senantiasa mengikuti alam dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak alamiah”. Sikap mengikuti alam disebut juga sebagai tzu-jan, dan sikap pasif dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak alami disebut juga sebagai wu-wei. Kontras dengan itu, Taoisme sebagai agama justru menekankan pentingnya keabadian jiwa sebagai prinsip utama.[17]
Filsafat Taoisme dan agama Taoisme juga berbeda pendapat tentang bagaimana seharusnya orang bersikap di hadapan penguasa politik. Filsafat Taoisme menolak tradisi (antitraditional) dan berupaya melampaui nilai-nilai yang diakui bersama. Lao Tzu dan Chuang Tzu bersikap kritis terhadap penguasa pada jamannya, dan juga terhadap nilai-nilai Konfusianisme tradisional. Mereka berdua berpendapat bahwa masyarakat akan jauh lebih baik, jika semua bentuk aturan, moralitas, hukum, dan penguasa dihapuskan.
Di sisi lain, para pemuka agama Taoisme sangat menghormati penguasa dan aturan-aturan Konfusianisme. “Orang-orang yang hendak memiliki keabadian”, demikian tulis Ko Hung (284-343), seorang pemuka agama Taoisme, “haruslah menempatkan kesetiaan kepada penguasa dan kesalehan yang tulus kepada orang tua mereka sebagai prinsip dasar.” K’ou Ch’ien Chih, seorang pemuka agama Toaisme lainnya, juga berpendapat bahwa setiap orang haruslah mempelajari Konfusianisme, serta secara aktif membantu kaisar di dalam mengatur dunia. Agama Taoisme memang memberikan perhatian besar pada kepentingan-kepentingan praktis yang bersifat temporal. Jika filsafat Taoisme lebih bersifat individualistik dan kritis, maka agama Taoisme dapat dipandang sebagai ajaran yang lebih bersifat sosial dan praktis. Dalam arti ini, para filsuf Taoisme memiliki pengertian-pengertian yang agak berbeda tentang konsep-konsep dasar Taoisme, seperti wu-wei, Tao, dan te, jika dibandingkan dengan pengertian para pemuka agama Taoisme.
H. Konsep Metafisika Taoisme
Lao Tzu dapatlah dipandang sebagai perumus sistem pemikiran metafisis pertama di dalam sejarah intelektual Cina. Fokus dari metafisikanya adalah konsep Tao itu sendiri. Secara literal, seperti sudah disinggung sebelumnya, Tao berarti “Jalan”. Definisi yang sangat umum membuat banyak aliran di dalam Taoisme mendefinisikan implikasi Tao bagi kehidupan bermasyarakat secara amat beragam. Menurut Lao Tzu, Tao adalah “sumber umum bagi seluruh alam semesta.” Tao, dengan demikian, adalah suatu konsep metafisis. Tidaklah mungkin mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan secara akurat arti dari kata Tao, bahkan di dalam bahasa Cina sekalipun.
Akan tetapi, ada beberapa deskripsi yang kiranya bisa memberi gambaran yang cukup memadai tentang Tao. Tao adalah “asal usul yang unik tentang dunia.” Lao Tzu secara eksplisit menulis, “Tao menghasilkan Yang Satu. Yang Satu menghasilkan yang Dua. Yang Dua menghasilkan yang Tiga, dan yang Tiga menghasilkan sepuluh ribu hal lainnya.” Tao adalah sumber utama. Yang Satu (the One) adalah ada yang bersifat primordial (primordial being), atau Chaos itu sendiri. Yang Dua disebut juga sebagai yin, atau sisi feminin, sekaligus yang, atau sisi maskulin. Yinjuga dikenal sebagai sisi negatif, dan Yang adalah sisi positif. Yang Tiga adalah kesatuan antara yin dan yang. Selain menjadi ajaran metafisis di dalam Taoisme, konsep-konsep seperti Tao, yang Satu, yang Dua, dan yang Tiga ini juga menjadi asal usul dari alam semesta itu sendiri. Ini adalah kisah penciptaan versi Taoisme.[18]
Tao menentukan segala sesuatu, dan segala sesuatu bergantung pada Tao. Lao Tzu sangat yakin, bahwa Tao bersifat universal. Segala sesuatu berasal dari Tao, dan merupakan pengembangan dari Tao itu sendiri. Tao, dengan demikian, juga merupakan proses yang bersifat universal dan prinsip tertinggi. Ini adalah ontologi yang paling mendasar dari Taoisme.
Tao juga memiliki sifat yang misterius. “Kita memandang Tao”, demikian tulis Lao Tzu, “tetapi tidak melihatnya. Kita mendengar Tao tetapi tidak mendengarkannya. Kita menyentuhnya tetapi tidak menemukannya. Bergerak ke atas, tetapi tidak terang, dan bergerak rendah ke bawah, tetapi tidak gelap. Tidak terbatas dan tidak bisa diberikan nama apapun.“ Tao tidaklah bisa dimengerti dengan akal budi dan panca indera manusia, tetapi Tao itu adalah ada-yang-nyata (real being).
Tao berada di level yang melampaui pengetahuan biasa yang diperoleh melalui intelek manusia. Akan tetapi, Tao dapatlah diketahui melalu intuisi. Pengejaran dalam hal pembelajaran“, bergerak maju dari hari ke hari. Pengejaran dalam hal Tao menurun dari hari ke hari.“ Untuk menyadari keberadaan Tao, orang haruslah bergerak melampaui kemampuan kognitif mereka. Pengenalan atas Tao membutuhkan lebih dari sekedar ketrampilan kognitif biasa yang dimiliki oleh orang pada umumnya.“ Orang“, demikian Lao Tzu, dapat melihat Tao Surga tanpa perlu melihat melalui jendela.“
Tao bergerak secara alami dan spontan. Tao tidak memiliki kehendak ataupun tujuan. “Manusia”, demikian Lao Tzu, “mendapatkan modelnya dari bumi, bumi dari surga, surga dari Tao, dan Tao dari spontanitas.” Tao “menyelesaikan tugasnya, tetapi tidak mengklaim kredit darinya. Tao memberikan pakaian dan makanan kepada semua hal tetapi tidak mengklaim menjadi penguasa atasnya. Tao selalu bergerak tanpa keinginan segala sesuatu datang kepadanya dan Tao tidak menguasainya”. Jadi, Tao bergerak secara alami. Akan tetapi, Tao bukanlah seperti Tuhan yang menciptakan dunia dengan tujuan tertentu. Di dalam Konfusianisme, Tao adalah prinsip umum yang mengatur moralitas dan politik, sementara Te adalah keutamaan individual. Akan tetapi, bagi Lao Tzu, Tao adalah realitas yang paling ultim sekaligus prinsip umum dari alam semesta. Sementara, Te adalah partikularisasi dari Tao yang terwujud dalam diri seseorang, ketika ia hidup sesuai dengan Tao.
I. Etika Wu-Wei
Seperti sudah disinggung sebelumnya, filsafat Lao Tzu sangat kritis terhadap tradisi. Metode yang ia pakai di dalam berfilsafat pun terkesan tidak umum. Misalnya, ia menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini mengandung dua unsur yang saling berlawanan, dan setiap unsur yang berlawanan tersebut saling tergantung satu sama lain. “Ada dan Non-Ada”, demikian tulisnya, “menghasilkan satu sama lain, hal yang susah dan hal yang mudah menyempurnakan satu sama lain; panjang dan pendek saling berlawanan satu sama lain, sementara depan dan belakang mengikuti satu sama lain. Dengan begitu, pesan agung yang ingin disampaikan adalah ketiadaan tindakan, dan menyebarkan doktrin tanpa kata-kata.” Teori bahwa segala sesuatu yang bertentangan selalu mengandaikan dan mengubah satu sama lain merupakan dasar dari metafisika Taoisme, sekaligus fondasi bagi etika wu-wei, yang merupakan inti dari ajaran etika Taoisme. Aforisme Cina berikut ini menggambarkan dengan jelas pengandaian dasar etika Taoisme, “Malapetaka adalah sesuatu yang menjadi dasar bagi kebahagiaan; kebahagiaan adalah ketika malapetaka menjadi tersembunyi.”[19]
Di dalam tulisan-tulisannya, Lao Tzu membagi menjadi sekitar tujuh puluh konsep yang saling bertentangan, namun mengandaikan satu sama lain. Sebagian besar diantaranya dapat diringkas ke dalam perbedaan antara pasivitas dan aktivitas, antara kelembutan dan kekerasan, dan antara kompetisi dan kesabaran. Ia kemudian berpendapat, bahwa pasitivitas itu lebih menguntungkan daripada aktivitas. Kelembutan lebih berguna daripada kekerasan, dan kesabaran lebih berguna daripada kompetisi. “Memahami kemuliaan”, demikian tulisnya, “tetapi sekaligus menjaga kerendahatian, memahami yang putih tetapi juga menjaga yang hitam.” Karena orang mudah sekali jatuh ke dalam hal-hal yang berlawanan dari yang diinginkannya, maka adalah lebih baik bagi setiap orang, jika ia mulai dengan hal-hal yang tidak diinginkannya, lalu bergerak ke hal-hal yang diinginkannya. “Untuk memperoleh sesuatu”, demikian Lao Tzu, “adalah perlu bagi orang untuk pertama-tama memberi.” Jadi, untuk mencapai sesuatu, orang harus pertama-tama memulai dengan yang berlawanan dari yang ingin dia capai. Dengan demikian, esensi dari pendekatan Lao Tzu adalah “dengan mulai mengejar tujuan dari titik yang secara diametral bertentangan dengan tujuan itu.
Dari kesimpulan di atas, kita bisa menarik poin bahwa inti dari etika Taoisme yang ditawarkan oleh Lao Tzu adalahwu-wei, yang dalam bahasa Cina secara literer berarti tidak adanya tindakan, atau tidak melakukan apa-apa. Hal ini tidak berarti bahwa orang murni tidak melakukan apapun secara mutlak. “Wu-wei”, demikian tulis Xiaogan dalam tulisannya tentang Taoisme, “adalah suatu konsep atau ide yang digunakan untuk menegasi atau mengurangi tindakan manusia.” Dengan kata lain, wu-wei berarti pembatalan dan sekaligus pembatasan tingkah laku manusia, terutama tingkah laku di dalam dunia sosial. Ada beberapa tingkatan wu-wei di dalam Taoisme, mulai dari wu-weisebagai tidak melakukan apapun, wu-wei sebagai melakukan tindakan seminimal mungkin, wu-wei sebagai tindakan pasif ke dalam dunia sosial, wu-wei sebagai sikap menunggu perubahan alami dari hal-hal yang ada, dan wu-weisebagai bertindak seturut kondisi obyektif yang hakekat dari permasalahan yang ada. Yang terakhir ini sering juga disebut sebagai bertindak alami (acting naturally). Semua hal ini, menurut Xiaogan, bisa dipahami dalam satu konsep, yakni konsep non-tindakan (non-action). Etika wu-wei adalah etika non-tindakan.[20]
Lao Tzu sendiri sangat yakin, bahwa wu-wei akan dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan damai. “Semakin besar hukum dan tatanan diberlakukan”, demikian tulisnya, “maka semakin banyak pencuri dan perampok.. oleh karena itu seorang bijak akan berkata: saya tidak bertindak apa-apa dan orang itu sendiri akan berubah.” Lawan dari sikap wu-wei adalah yu-wei, atau apa yang disebut sebagai bertindak. Yu-wei ini menciptakan hukum dan tatanan, serta dengan itu juga menciptakan para pencuri dan orang-orang yang melanggar tatanan. Sementara kontras dengan itu, wu-wei menciptakan kemakmuran bersama, harmoni, dan kedamaian. “Sebuah kerajaan”, demikian tulis Lao Tzu, “seringkali diberikan kepada orang yang tidak melakukan tindakan. Jika orang melakukan tindakan, maka ia tidak cukup memadai untuk memenangkan sebuah kerajaan.” Kehidupan yang ideal hanya dapat dicapai, jika orang menerapkan etika wu-wei ini di dalam hidupnya.
Wu-wei sangat menekankan nilai-nilai spesifik, seperti pasivitas, sikap mengalah, dan ketenangan. Menurut Lao Tzu, nilai-nilai ini sangatlah penting, terutama bagi orang-orang yang lemah dan tidak beruntung di dalam hidupnya. Dengan menerapkan wu-wei di dalam hidupnya, orang-orang yang lemah bisa menaklukan orang-orang yang kuat dengan kelembutannya. Inilah keuntungan dari sikap wu-wei. “Hal yang paling lembut di dunia”, demikian Lao Tzu, “dapat melampaui hal yang paling keras di dunia melalui inilah saya mengetahui keuntungan untuk tidak mengambil tindakan apapun.” Di dalam dunia manusia, menurutnya, negara-negara yang kuat dapat dengan mudah mendeklarasikan sebuah perang. Akan tetapi pada akhirnya, negara-negara yang lebih lemahlah yang akan menang. Ini adalah kebenaran yang nyata, bahwa kelemahlembutan dapat melampaui kekerasan. Walaupun begitu nyata, tetapi orang begitu cepat lupa dengan hal ini, sekaligus begitu sulit untuk mempertahankan kesadaran semacam ini.
Konsep lainnya yang sangat penting di dalam etika Taoisme adalah tzu-jan, atau apa yang disebut sebagai spontanitas. Tzu-jan juga bisa berarti “menjadi alami” (being natural). Karena Tao adalah sesuatu yang alami, dan segala sesuatu berasal dari Tao, maka segala sesuatu di dunia ini juga bersifat alami. Dan segala sesuatu yang bersifat alami selalu berjalan dengan spontanitas. Suatu sikap yang didasarkan pada sesuatu yang tidak natural biasanya akan berakhir dengan kegagalan. “Kepercayaan bahwa alam semesta dan kehidupan sosial akan berkembang secara spontan”, demikian tulis Xiaogan, “adalah fondasi dari teori etika wu-wei, sekaligus fondasi dari filsafat Tao.” Di dalam penafsiran-penafsiran kontemporer, tzu-jan juga dipahami sebagai suatu kesadaran bahwa realitas ini akan berubah tanpa keterputusan total, dan perubahan itu sendiri akan datang tanpa konflik dan tanpa kekerasan.[21]
J. Taoisme Mistisk
Berkembangnya Taoisme Mistik (Aliran Shangqing) sebenarnya berupaya untuk menciptakan suatu pengalaman religius yang lebih mendalam, dengan berusaha untuk mencapai pengalaman mistis. Ada banyak definisi mengenai pengalaman mistis tersebut, namun secara umum adalah dengan berusaha mencapai ekstase, atau pengalaman keagamaan yang melampaui segenap kesadaran indrawi dan logika. Perasaan bahagia luar biasa yang tidak dapat diterangkan dengan akal juga merupakan sesuatu yang sering menyertai pengalaman-pengalaman mistis. Ajaran penting lainnya adalah konsep mengenai apa yang disebut dengan “Yang Tunggal.” Ia tidak dapat dipahami oleh orang biasa dan merupakan dasar bagi segala sesuatu. Ia melampaui segala bentuk, suara dan sentuhan,”Yang Satu” itu tidak dapat dijelaskan. Mengapa begitu? Karena yang dapat dijelaskan bukanlah Tao, melainkan perjalanan hidup ini sehingga Tao sangat misterius. Misteri itulah yang membuatnya dikenal sebagai Tao.[22]
Meskipun tidak dapat dipahami, namun ia hadir dalam diri kita, dan dengan
menyadarinya secara internal kita dapat mencapai kemanunggalan dengan segala sesuatu di sekeliling kita. Tujuan tertinggi umat manusia adalah menyatu dengan “Yang Tunggal” tersebut. Aliran Shangqing mengatakan bahwa tujuan tertinggi dalam hidup adalah menyatu dengan Tao dalam rasa bahagia yang luar biasa serta ekstase. Jadi Tao diidentikkan dengan “Yang Tunggal” tersebut. Mereka juga mengajarkan bahwa di dalam tubuh manusia (pada tiap-tiap organnya) terdapat roh-roh penjaga, menyerap energi bulan dan matahari untuk mencapai keabadian. Itulah sebabnya, perjalanan Tao sangat lembut, penuh dengan misteri, penyerapan pengetahuan yang begitu mendalam.[23]
Sebelum melanjutkan pembahasan kita, perlu diingat bahwa sesuatu yang disebut “Yang Tunggal” tersebut menurut Aliran Taoisme Shangqing sekalipun, juga merupakan kekuatan yang tidak berpribadi (impersonal), sehingga tidak dapat disamakan dengan Tuhan Personal. Ajaran Aliran Shangqing ini lebih mirip dengan Brahmanisme, dimana tujuan akhirnya adalah penyatuan dengan suatu esensi tertinggi impersonal bernama Brahman. Aliran Shangqing meyakini bahwa “Yang Tunggal” tersebut adalah Tao yang berada dalam diri setiap orang. Ini juga mirip dengan ajaran Brahmanisme yang mengatakan bahwa tiap makhluk merupakan pancaran dari Brahman, jadi dari dalam tiap makhluk terdapat Brahman.
Aliran Shangqing ini didirikan oleh seorang wanita bernama Wei Huacun YuanJun pada masa Dinasti Jin. Nyonya Wei dikatakan telah menerima pewahyuan dari para dewa dan mencatat ajaran mereka pada sebuah kitab yang berjudul Shangqing Huangding Neiqing Yujing (Kitab Klasik Batu Giok Istana Kuning Mengenai Gambaran-gambaran Internal atas Alam Murni nan Tinggi) pada tahun 288 M. Meskipun demikian gagasan mengenai adanya roh-roh penjaga pada tiap-tiap organ tubuh manusia serta penyatuan dengan “Yang Tunggal” telah dikenal sebelumnya. Kitab Taipingjing yang telah ada sebelumnya menyebutkan: “Jika tubuh berada dalam ketenangan dan roh dijaga di dalamnya, maka penyakit tidak akan bertambah banyak. Anda akan berumur panjang, oleh karena roh-roh yang baik melindungi Anda.”
Pada kitab komentar atas Tao Te Cing yang ditulis oleh He Shanggong, disebutkan apabila seseorang dapat membina roh-roh penjaga yang terdapat dalam tubuhnya, maka ia dapat mencapai keabadian. Kelima roh- roh penjaga yang berdiam dalam organ manusia itu. Pertama, hati tempat berdiam roh manusia. Kedua,paru-paru tempat berdiam jiwa manusia. Ketiga, jantung tempat benih roh abadi. Keempat, limpa tempat berdiam keinginan-keinginan manusia. Kelima, empedu tempat berdiam energi pembangun.


[1] Buurhanuddin Daya, Agama Dialogis; Merenda Dialektia Realita Hubungan Antaragama, (Yogyakarta: Mataram-Minang Lintas Budaya, 2004), hlm. 3
[2] M. Amin Abdullah, Metodologi Studi Agama (dalam kata pengantarnya), terj. Ahmad Norma Permata, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 11
[3] Livia Kohn, Taoist Mystical Philosophy: The Scripture of Western Ascension, (Albany: State University of New York Press, 1991), hlm. 234.
[4] Lao Tzu Adalah orang yang memberikan dasar pijakan pada perkembangan aliran Taoisme berikutnya. Oleh karena itu Lao Tzu dalam bahasa oleh para penganutnya diartikan dalam bahasa indonesia sebagai Sang Guru Tua, Putra Tua, Sahabat Tua. Menurut kitab shiji nama asli Laozi adalah Lier, nama sopanya adalah Boyang dan nama almarhumnya adalah Dan. Lao Tzu dikenal banyak kalangan sebagai pencetus ajaran dan konsep pemikiran tentang Taoisme. Lao Tzu, juga dikenal sebagai tokoh bijak besar Tao dari zaman kuno yang mampu membawa pencerahan bagi masyarakat Tionghoa, sehingga terhindar dari kehidupan kelam dan kemewahan yang berlebihan. Bagi Lao Tzu, Jalan Tao yang dicetusaknnya adalah jalan untuk melihat kesederhanaan dalam kerumitan dan mencapai keagungan dalam hal-hal yang kecil. Tidak heran bila konsep Tao adalah sebagai jalan yang menhormati, dan bahkan memuliakan sesama dan alam semesta. Kebijakan Tzu ini memberikan harapan baru masyarakat Tionghoa guna menciptakan kesadaran dan kejernihan pikiran terkait dengan aspek kemualiaan dan penghormatan besar terhadap ajaran baru tersebut. Itulah sebabnya, Lao Tzu dipandang sebagai nabi yang bertugas memberikan pengarahan dan bimbingan khsusus bagi masyarakat dunia semuanya. Lew Hee Men, Sejarah Peradaban Dunia, (Yogyakarta: C.V. Ananda, 2000), hlm. 22.
[5] Kekecewaan Lao Tzu ini, semakin memberikan keyakinan bahwa masyarakat Tionghoa harus kembali pada ajaran yang murni yang jauh dari keserahakan dan kesombongan menuju kesederhanaan dan kemurahan hati yang paling dalam. Itulah sebabnya, Lao Tzu sangat dicintai oleh masyarakat Tionghoa sendiri, karena kontribusi pemikiran dan ajarannya itulah kebijakan hidup masyarakat Tionghoa semakin bersemangat untuk mengamalkan dan mengajarkan konsep-konsep tentang Taoisme itu sendiri sehingga bisa diterima oleh masyarakat dunia.Ibid.
[6] Sebagai suatu ajaran filosofis, Taoisme didirikan oleh Lao Tzu pada abad keenam sebelum Masehi. Ajaran ini terus berkembang sampai abad kedua sebelum Masehi. Filsafat Taoisme juga terdiri dari aliran Chuang Tzu dan Huang Lao. Di dalam ajaran-ajaran awal tentang Taoisme ini, Tao dipandang sebagai “sumber yang unik dari alam semesta dan menentukan semua hal; bahwa semua hal di dunia terdiri dari bagian yang positif dan bagian yang negatif; dan bahwa semua yang berlawanan selalu mengubah satu sama lain; dan bahwa orang tidak boleh melakukan tindakan yang tidak alami tetapi mengikuti hukum kodratnya.” Sikap pasrah terhadap hukum kodrat dan hukum alam ini disebut juga sebagai wu-wei. Lihat Solala Towler, Ajaran Tao tentang Cinta, (Yogyakarta: Dolphin Books, 2006), hlm. 9-10.
[7] James Legge, The Writing of Kwang-zze (Sacred Books of the East), (London: Reprinted, 1972), hlm. 232.
[8] Tao Te Ching adalah sebuah buku kecil berisikan filsafat Cina klasik yang sering oleh penganutTaoisme sebagai “Nabi”nya . “Tao” berarti jalan, dalam arti luas: realitas absolut yang tidak terselami dasar penyebabnya, akal budi, logos. “Ching” artinya buku klasik. Buku ini ditulis oleh seorang ilmuwan berbakat yang bekerja sebagai pengurus arsip kerajaan Tjou bernama Lao Tse (disebut juga Li Er). Ia sejaman dengan Konfusius yaitu (551-479 Seb. M). Lihat H.G. Creel, Alam Pikiran Cina: Sejak Confucius Sampai Mao Zedong, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989), hlm. 103-104.
[9] Lew Hee Men, Sejarah Peradaban Dunia,…hlm. 22.
[10] H.G. Creel, Alam Pikiran Cina,…hlm. 107.
[11] Solala Towler, Ajaran Tao tentang Cinta,….hlm. 13-14.
[12] Liu Xiaogan, “Taoism”, dalam Our Religions, Arvind Sharma (ed), (New York: Harper Collins, 1993), hlm. 231-287.
[13] H. G. Creel, Confucius, the Man and the Myth, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1951), hlm. 109.
[14] James Legge, The Writing of Kwangzze (Scred Book of the East),….hlm. 125
[15] Dikutip oleh Xiaogan dari Pao Pu Tzu Nei-P’ien Chiao-Shih, (Peking: Chung-Hua Shu-Chu, 1985), hlm. 53.
[16] Dikutip Xiaogan dari Lao Tzu, dengan berdasar pada terjemahan dari D.C. Lau, Chinese Classics: Tao Te Ching, (Hongkong: Chinese University Press, 1982), hlm. 123.
[17] Liu Xiaogan, “Taoism”, dalam Our Religions, Arvind Sharma (ed), (New York: Harper Collins, 1993), hkm. 231-287.
[18] J.C, Cooper, Yin dan Yang: The Taoist Harmony of Opposites, (San Fransisco: The Aqruarian Press, 1981), hlm. 234.
[19] Alan Watts, Tao: The Watercourse Way, (New York: Pantheon Books, 1973), hlm. 233.
[20] Dikutip Xiaogan dari Burton Watson, The Complete Works of Chuang Tzu, (New York and London: Columbia University Press, 1968), hlm. 78-80.
[21] Ibid, hlm.239.
[22] Anand Krishna, Mengikuti Irama Kehidupan: Tao Teh Ching bagi Orang Modern, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998), hlm. 50.
[23] Ibid, hlm, 53.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar