Selasa, 29 Mei 2012

Perayaan Sam Poo Di Semarang


Bagi orang Tionghoa di Kota Semarang, ada sebuah tradisi perayaan tahunan yang selalu mereka lakukan untuk memperingati pendaratan Laksmana Cheng Ho atau Sam Poo Kong di Semarang. Secara historis, pendaratannya Cheng Ho di Semarang memang masih diperdebatkan, tetapi masyarakat Tionghoa di Semarang meyakini bahwa Laksmana Ceng Ho atau Sam Poo mendarat di Semarang pada bulan keenam dalam penanggalan Imlek.

Sebab itulah, setiap tanggal tersebut masyarakat Semarang merayakann tradisi yang sering disebut sebagai arak-arakan Sam Poo Besar ini. Tahun 2011, peringatan 606 kedatangan Laksamana Cheng Ho jatuh pada hari Sabtu (30/7). Dalam arak-arakan ini, warga Tionghoa mengusung patung (kim sien) duplikat Kong Co Sam Poo Tay Djien milik Kelenteng Besar Tay Kak Sie di Gang Lombok, menuju Kelenteng Agung Sam Poo Kong di Gedungbatu.

Sejak pagi pukul 04.00 WIB, ratusan orang sudah berdatangan di Klenteng Tay Kak Sie untuk mengikuti kirab tersebut. Tak hanya warga keturunan Tionghoa saja, tetap banyak pula warga pribumi yang turut serta dalam pawai tersebut, termasuk dari unsur TNI. Tepat pukul 05.00 WIB, pawai diberangkatkan dari klenteng tersebut. Peserta arak-arakan terbagi dalam beberapa rombongan, dengan peran berbeda. Pada barisan terdepan, adalah pembawa bendera Tay Kak Sie dan bendera kebesaran Sam Poo Tay Djien. Di belakangnya, ada pemain gambreng, pembawa papan bertuliskan "Shu King" (tenang dan jangan berisik) dan Hui Bi (minggir atau berjalan), pembawa pusaka tiruan, pengusung joli (tandu) kim sien (patung) Sam Poo Tay Djien, dan rombongan Bee-kun serta kuda putihnya. Sedangkan di barisan paling belakang adalah rombongan pemain liong sam si.

Selain itu, ribuan warga yang mengikuti Festival Bukan Bee-kun juga turut serta dalam arak-arakan tersebut. Mereka mengekan topeng Bee-kun, bandana, dan kaos berwarna hitam. Festival Bukan Bee-kun pada tahun ini merupakan yang pertamakali digelar dalam perayaan Sam Poo Besar. Festival ini diadakan tanpa mempengaruhi unsur ritual yang asli, sebab itu rombongan Bee-kun yang asli pun masih tetap ada. Secara etimologis Bee-kun berasal dari bahasa Hokian. ''Bhe'' berarti kuda, sedang ''kun'' adalah pasukan. Jika diterjemahkan secara bebas menjadi pasukan pengawal kuda. Kalangan Tionghoa mengintepretasikan bahwa pada saat turun dari kapalnya, Sam Poo Tay Djien berkendara kuda dan tentu saja ada orang yang merawatnya.

Dengan intepretasi semacam itu, profesi perawat kuda tepat digunakan sebagai gambaran pengorbanan dan kesetiaan kepadanya. Dari Klenteng Tay Kak Tse, rombongan tersebut menyusuri Gg Lombok - Gg Warung - Jl Kranggan Timur - Jl Kranggan Barat - Jl Depok - Jl Pemuda - Jl Mgr Soegijapranata - Jl Bojong Salaman, kemudian menuju Jl Simongan - dan berakhir di Klenteng Sam Po Kong.

Pawai ini menyita perhatian warga Semarang. Ratusan warga memadati jalan-jalan yang menjadi rute arak-arakan tersebut. Pawai ini juga sempat membuat arus lalu-lintas tersendat, karena tidak ada penutupan jalan di sepanjang rute yang dilalui. Sekitar pukul 07.30 WIB, rombongan sampai di Klenteng yang memiliki patung Sam Po Kong terbesar di dunia, dan baru saja diresmikan pada Jumat malam (29/7).

Sesampainya di Klenteng Agung Sam Po Kong, rombongan arak-arakan Sam Poo Besar kembali menyuguhkan atraksi. Beberapa pertunjukan pentas seni pun digelar, termasuk pertunjukan Punakawan dari Solo serta tarian Jawa dari Sobokarti Semarang.


Kameraman & Reporter: Diantika PW
Dubber: Diantika PW
Editor Video: Susiana


Tidak ada komentar:

Posting Komentar