Jumat, 15 Juni 2012

LAPORAN STUDI LAPANGAN KUNJUNGAN KE BIO HOK TEK TJENG SIN


LAPORAN STUDI LAPANGAN
KUNJUNGAN KE BIO HOK TEK TJENG SIN
Laporan ini Disusun untuk Memenuhi Tugas UTS Mata Kuliah Agama Konghucu

Oleh    : Zaimah Imamatul Baroroh

Dosen pembimbing   : Hj. Siti Nadroh




JURUSAN PERBANDINGN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2012



Pendahuluan
Menjalin hubungan baik antar umat beragama adalah hal yang sangat penting, upaya ini harus bisa dilakukan oleh mahasiswa Perbandingan Agama yang notabene belajar banyak agama. pendekatan emosional harus dilakukan agar terjalin rasa saling menghormati antar sesama pemeluk agama. pendekatan tersebut bisa dilakukan oleh mahasiswa Perbandingan Agama dengan cara melakukan study lapangan dan kunjungan ke tempat-tempat ibadah mereka. Salah satu kunjungan yang kami lakukan adalah kunjungan ke tempat ibadah umat Khonghucu, disana kami mendapat banyak ilmu pengetahuan karena selain kunjungan, penelitian kami juga bisa melakukan dialog interaktif dengan akademisi umat Konghucu yang ada disana. Dan berikut adalah laporan hasil kunjungan tersebut, semoga lapooran ini bermanfaat.
Pembahasan hasil study lapangan
A.    Menganai sejarah agama konghucu
Sejarah perjalanan dan perkembangan agama Khonghucu (Kong jiao) sangatlah panjang. Agama Khonghucu adalah agama yang ada dengan mengambil nama Sang Nabi Khongcu (Kongzi/Kong Fuzi) yang lahir pada tanggal 27 bulan 8 tahun 551 SM di negeri Lu (kini jasirah Shandong). Awalnya agama ini bernama Ru jiao ( ). Huruf Ru () berasal dari kata (-) ‘ren’ (orang) dan () ‘xu’ (perlu) sehingga berarti ‘yang diperlukan orang’, sedangkan ‘Ru’ sendiri bermakna () ‘Rou’ lembut budi-pekerti, penuh susila, () ‘Yu’ – Yang utama, mengutama perbuatan baik, lebih baik,.. He – Harmonis, Selaras,.. Ru – Menyiram dengan kebajikan, bersuci diri,.. ‘Jiao berasal dari kata ‘xiao’ (berbakti) dan ‘wen’ (sastra, ajaran). Jadi ‘jiao’ berarti ajaran/sastra untuk berbakti; =agama. Maka Ru jiao adalah ajaran/agama untuk berbakti bagi kaum lembut budi pekerti yang mengutamakan perbuatan baik, selaras dan berkebajikan. Ru jiao ada jauh sebelum Sang Nabi Kongzi lahir. Dimulailah dengan sejarah Nabi-Nabi suci Fuxi (2952 – 2836 SM), Shen-nong (2838 – 2698 SM), Huang-di (2698 – 2596 SM), Yao (2357 – 2255 SM), Shun (2255 – 2205 SM), Da-yu (2205 – 2197 SM), Shang-tang (1766 – 1122 SM),Wen, Wu Zhou-gong (1122 – 255 SM), sampai Nabi Agung Kongzi (551 – 479 SM) dan Mengzi (371 – 289 SM). Para nabi inilah peletak Ru jiao. Sedangkan Nabi Kongzi atau nabi Konghucu adalah penerus, pembaharu dan penyempurna. Maka Ru jiao juga disebut Kong jiao atau Konghucu yang di ambil dari nama NAbi Konghucu itu sendiri. Seperti inilah yang dikatakan para narasumber saat kaim mahasiswa Perbandingan a semester 4 mengadakan Tanya jawab tentang sejarah agama konghucu itu sendiri.
B.     Mengenai sejarah agama Konghucu di Indonesia
Menurut hasil wawancara kami dengan narasumber, agama Konghucu masuk ke Indonesia tidak di ketahui pasti tanggal bulan dan tahunnya yang pasti agama konghucu masuk ke Indonesia dibawah oleh orang-orang tionghoa yang pada saat itu melakukan transaksi perdagangan dengan orang Indonesia dan orang-orang darinegara lain di Indonesia.
Pada dasarnya agama konghucu ini dibawah ke Indonesia bukan dengan misi menyebarkan tapi mereka orang-orang Tionghoa yang berdagang di Indonesia akhirnya banyak yang menetap di Indonesia dan menikah dengan orang idonesia maka dengan sendirinya agama konghucu dianut oleh anak cucunya secara turun temurun dan telah berasimilasi dengan budaya Indonesia.

C.    Ajaran agama Konghucu
Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa Tionghoa istilah aslinya adalah Rujiao (儒教) yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga etika manusia. Sebenarnya kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau Agama Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".
Konfusianisme atau Khonhucu mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajarkan supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.
Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral.
Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya Mensius ke seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seorang dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.

Ajaran inti Agama konghucu
Wawancara pada malam itu menghasilkan ajaran-ajaran penting dalam agama Konghucu berikut Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:
a.       Umat konghucu sepenuhnya Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa atau yang disebut Tian (Cheng Xin Huang Tian)
b.      Umat Khong Hu Cu sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
c.       Umat Khong Hu Cu sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
d.      Umat Khong Hu Cu sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
e.       Umat Khong Hu Cu sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
f.       Umat Khong Hu Cu sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani/ajaran Nabi Kongzi(Cheng Shun Mu Duo)
g.      Umat Khog Hu Cu sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
h.      Umat Khong Hu Cu sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)
Para Narasumber juga mengungkapkan ajaran-ajaran lain seperti berikut:
2.      Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):
a.       Ren - Cintakasih
b.      Yi - Kebenaran/Keadilan/Kewajiban
c.       Li - Kesusilaan, Kepantasan
d.      Zhi - Bijaksana
e.       Xin - Dapat dipercaya
3.      Lima Hubungan Sosial (Wu Lun):
a.       Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan
b.      Hubungan antara Suami dan Isteri
c.       Hubungan antara Orang tua dan anak
d.      Hubungan antara Kakak dan Adik
e.       Hubungan antara Kawan dan Sahabat
4.      Delapan Kebajikan (Ba De):
a.       Xiao - Laku Bakti
b.      Ti - Rendah Hati
c.       Zhong - Satya
d.      Xin - Dapat Dipercaya
e.       Li - Susila
f.       Yi - Bijaksana
g.      Lian - Suci Hati
h.      Chi - Tahu Malu
D.    Tradisi Penghormatan kepada Dewa dalam Agama Konghucu
Agama Konghucu adalah agama yang mempunyai banyak dewa untuk disembah, itulah yang kita ketahui selama ini. Tetapi setelah kunjungan itu ternyata dewa-dewa tersebut bukan disembah melainkan dihormati. Dalam tradisi agama Konghucu Dewa-dewa tersebut adalah sosok yang berjasa bagi banyak orang, mereka menghormati dewa-dewa tersebut dengan tujuan untuk memperoleh berkah dari kebaikan sosok dewa tersebut. Seperti contoh penghormatan terhadap Dewi Kuan In yang mereka harapkan dari penghoramatan itu adalah agar mereka mendapat kasih sayang dan kelak akan mempunyai sifat kasih sayang yang dimiliki oleh Dewi Kuan In.
Ternyata Dewa-dewa dalam agama Konghucu dimunculkan oleh umat agama Konghucu itu sendiri, dewa-dewa tersebut bukan dimunculkan oleh sang pengajar agama yakni guru Khong. Jadi orang atau sosok yang mereka anggap telah berjasa bagi umat manusia harus diberikan penghormatan.

E.     Tentang hidup setelah mati
Semua agama memiliki konsep hidup setelah mati, lain dengan Konghucu ketika kami wawancarai mereka tidak bisa menjelaskan konsep hidup setelah mati, mereka mengatakan hidup setelah mati tidak bisa diceritakan sebelum kita mengalaminya. Tetapi disisi lain mereka meyakini bahwa orang yang telah mati itu harus disembahyangkan atau didoakan oleh keluarganya yang masih hidup agar roh tersebut tidak menjadi roh gentayangan dan kelak menjadi roh gemilang yakni roh yang bisa menyatu denga Thian. Mereka juga percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal dapat berpengaruh pada keberuntungan hidup keluarganya, oleh karena itu keluarga harus selalu mendoakan mereka agar mereka bisa hidup tengang dan membawa keberuntungan bagi keluarga yang ditinggalkan.

F.     Hari-Hari Besar Agama Khonghucu
Dalam agama Konghucu terdapat beberapa hari besar yang diperingati meriah oleh umat Khonghucu dalam perayaan hari itu juga dilakukan sembahyang dan pemujaan serta persembahan dengan perlengkapan sembahyang.
Hari-hari tersebut adalah :
1.      Tanggal 1 bulan I (Zheng Yue) – Tahun Baru Kongzili/Yinli/Xin Zheng
2.      Tanggal 4 bulan I – Menyambut turunya malaikat dapur (Chao Chun).
3.      Tanggal 8/9 bulan I – Jing Tian Gong (Sembahyang Besar kepada Tuhan YME)
4.      Tanggal 15 bulan I – Shang Yuan/Yuan Xiao atau Cap Go Me
5.      Tanggal 18 bulan II (Erl Yue) – Hari Wafat Nabi Kongzi (Zhi Sheng Ji Zhen)
6.      Tanggal 5 April – Hari Sadranan (Qing Ming)
7.      Tanggal 5 bulan V (Wu Yue) – Duan Yang/Duan Wu/Bai Chun
8.      Tanggal 29 bulan VII – Sembahyang Arwah Umum.
9.      Tanggal 15 bulan VII (Ji Yue) – Jing He Ping/Jing Hao Peng
10.  Tanggal 15 bulan VIII (Ba Yue) – Zhong Qiu (Sembahyang Purnama Raya)
11.  Tanggal 27 bulan VIII (Ba Yue) – Zhi Sheng Dan (Hari Lahir Nabi Kongzi)
12.  Tanggal 15 bulan X – Xia Yuan.
13.  Tanggal 22 Desember – Dong Zhi (Hari Genta Rohani)
14.  Tanggal 24 bulan XII (Shi Erl Yue) – Hari Persaudaraan & Naiknya malaikat dapur (Chao Chun).
Bulan-bulan tersebut adalah bulan menurut kalender China.
G.    Tentang Bio Hok Tek Tjeng Sin
Klenteng atau Bio Hok Tek Tjeng Sin adalah sebuah klenteng Tridharma yaitu tempat peribadatan umat Khonghucu, Tao dan Buddha. Dalam klentemg tersebut terdapat patung dewa dewi yang merupakan dewa-dewi yang mereka yakini sangat nerpengaruh terhadap kondisi kehidupan mereka. Seperti halnya nama dari klenteng ini, Hok Tek Tjeng Sin yakni dewa bumi tapi nama ini sebenarnya adalah nama seorang tokoh yang menurut umat Khonghucu bisa dicitrakan sebagai dewa bumi karena jasanya saat ia hidup.
Dalam klenteng ini terdapat banyak lampion. Lampion-lampion ini adalah milik para jemaat yang beribadah diklenteng tersebut, dalam tradisi umat Khonghucu menyalakan lampion adalah hal yang harus dilakukan ketika dia menginginkan petunjuk bagi hidupnya. Nyala terang lampion yang didoakan dipercaya dapat member keberuntungan dan menerangi hidup sipemilik lampion. Selaim lampion terdapat juga banyak lilin-lilin yang menyala fungsinya sama dengan lampion tersebut.

Penutup
Demikian laporan hasil study lapangan di klenteng Hok Tek Tjeng Sin. Dari laporan ini bisa disimpulkan bahwa sebenarnya agama Khonghucu bukanlah sebuah agama baru melainkan penyempurnaan dari agama dan kepercayaan yang sudah ada oleh nabi konghucu. Ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nabi Konghucu adalah bersifat social dan mementingkan etika. Agama konghucu yang berkembang di Indonesia adalah agama konghucu yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Indonesia sehingga bisa berkembang di Negara Indonesia.
Dari kunjungan yang telah kami laksanakan diharapkan bisa memberi pengetahuan lebih kepada mahasiswa dan bisa memupuk rasa toleransi sehingga tercapai tujuan mewujudkan kerukunan umat antar beragama.

Kumpulan makalah dan Tugas-tugas Mata Kuliah Konfusianisme dan Taoisme Semester IV

berisi Kumpulan makalah dan Tugas-tugas
Mata Kuliah Konfusianisme dan Taoisme
Semester IV
Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama
Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012
Dosen Pembimbing: Ibu Hj. Siti Nadroh

Selasa, 29 Mei 2012

DEWA - DEWI KELENTENG

klick link dbwah ini
http://dennytan90.blogspot.com/2012/02/dewa-dewi-kelenteng-disusun-oleh-ir.html

Tentang kitab Shi Jing

Mau tau Tentang Kitab Shi Jing ?????
klik dibawah ini!!!!
http://www.confucian.me/profiles/blogs/tentang-kitab-shi-jing-the
http://dennytan90.blogspot.com/2012/01/kitab-puisi-shijing.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Shi_Jing

dll.

Disini Ada Photo...


Isi Kitab Si Shu & Wu Jing


Kitab Si Shu & Wu Jing

kong-zi80

The Holy Books

The holy books consist of two categories;

nama dan alamat Vihara, Cetya dan Klenteng di Indonesia

Pengen tau nama, alamat Vihara Cetya dan klenteng di Indonesia???? Klik alamat berikut ini http://www.vihara-cetiya-kelenteng-di-indonesia.blogspot.com/

Klenteng Tertua Indonesia



Klenteng Welahan yang diberi nama “ Hian Thian Siang Tee “ terletak 24 km kearah selatan dari pusat kota Jepara, di Desa Welahan Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, sebuah Desa yang menyimpan peninggalan kuno Tiongkok dan menjadi salah satu aset wisata sejarah di Jepara, dimana berdiri megah 2 buah klenteng yang dibangun seorang tokoh pengobatan dari Tiongkok bernama Tan Siang Hoe bersama dengan kakaknya bernama Tan Siang Djie.

Untuk menuju Obyek Wisata Sejarah
 Klenteng Tertua Indonesia "Hian Thian Siang Tee" didukung dengan berbagai prasarana diantaranya jalan beraspal dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat atau angkutan umum yang lain, karena lokasi Obyek tersebut berdekatan dengan pasar Welahan .

Legenda Dan Sejarah
Pada tahun 1830 dimana Gubernur Jendral Belanda yaitu Johanes Graaf Van Bosch berkuasa di Indonesia, yang pada waktu itu disebut penjajahan Hindia Belanda, datanglah seorang Tionghoa totok dari Tiongkok bernama Tan Siang Boe. Kepergiannya dari Tiongkok menuju ke Asia Tenggara tersebut perlu mencari saudara tuanya bernama Tan Siang Djie di Indonesia.

Sewaktu berangkat dari Tiongkok bersamaan dalam satu perahu yang ada di dalamnya seorang Tasugagu “Pendeta“ dimana Tasu tersebut habis bersemedi dari Pho To San di wilayah daratan Tiongkok, merupakan suatu tempat dimana pertapaan dari paduka menteri kaisa “Hian Thian Siang Tee“. Ditengah perjalanan tasu tersebut jatuh sakit, dengan rasa kesetia kawanan dan saling tolong menolong sesama manusia sehingga Tan Siang Hoe merawatnya dengan bekal obat – obatan yang dibawanya dari Tiongkok, ia dapat menyembuhkan penyakit yang diderita Tasugagu tersebut.

Dengan rasa berterima kasih atas kesembuhannya, sewaktu Tasu tersebut mendarat di Singapura memberikan tanda mata ucapan terima kasih kepada Tan Siang Boe berupa satu kantong “semacam tas“ yang berisi barang – barang pusaka kuno Tiongkok yang terdiri dari : sehelai sien tjiang “kertas halus bergambar Paduka Hian Thiam Siang Tee”, sebilah po kiam “pedang Tiongkok”, satu hio lauw “tempat abu”, dan satu jilid tjioe hwat “buku pengobatan / ramalan”.

Setelah Tan Siang Boe tiba di Semarang, menginap di rumah perkumpulan “Kong Kwan” memperoleh keterangan bahwa saudara tuanya / kakaknya ada di daerah Welahan Jepara, maka beliau pergi untuk menjumpai Tan Siang Djie di tempat tersebut.

Di sana beliau dapat berjumpa dengan saudara tuanya yang masih mondok berkumpul dalam satu rumah dengan keluarga Liem Tjoe Tien. Rumah tersebut masih ada terletak di Gang Pinggir Welahan dan rumah itu sampai sekarang dipergunakan tempat buat menyimpan pusaka kuno “klenteng”sebagai tempat pemujaan dan dihormati oleh setiap orang Tionghoa yang mempercayainya, setelah beberapa waktu lamanya, Tan Siang Boe menetap dengan kakaknya di Welahan, maka pada suatu hari pergilah ia bekerja di lain daerah, sedangkan barang yang berisi pusaka kuno tersebut dititipkan kepada kakaknya. Mengingat keselamatan akan barang-barang titipan tersebut maka oleh Tan Siang Djie barang tersebut dititipkan kepada pemilik rumah Liem Tjoe Tien yang selalu disimpan di atas loteng dari rumah yang didiami.

Pada waktu itu, pada umumnya masih belum mengetahui barang pusaka apakah gerang yang tersimpan di atas loteng itu. Selama dalam penyimpanan di atas loteng tersebut setiap tanggal tiga yaitu hari lahir “sha gwe” yakni hari Imlex Seng Tam Djiet dari Hian Thiam Siang Tee, keluarlah daya ghaib dari barang pusaka tersebut mengeluarkan cahaya api seperti barang terbakar, sewaktu-waktu keluarlah ular naga dan kura-kura yang sangat menakjubkan bagi seisi rumah.

Dengan kejadian itu dipanggilah Tan Siang Boe yang semula menitipkan barang tersebut untuk kembali ke Welahan guna mebuka pusaka yang tersimpan di dalam kantong tersebut. Setelah dibuka dan diperlihatkan kepada orang-orang seisi rumah sambil menuturkan tentang asal mula barang tersebut sehingga ia dapat memiliki pusaka kuno Tiongkok. Dengan adanya asal mula pusaka tersebut maka orang-orang seisi rumah mempunyai kepercayaan bahwa pusaka kuno itu adalah wasiat peninggalan dari Paduka Hian Thiam Siang Tee maka dipujanya menurut adapt leluhur.

Pada suatu hari Lie Tjoe Tien sakit keras dan penyakitnya dapat disembuhkan kembali dengan kekuatan ghaib yang ada di pusaka, dengan kejadian itu maka dari percakapan mulut ke mulut oleh banyak orang sehingga pusaka itu dikenal namanya, dihormati, dan dipuja puja oleh orang yang mempercayainya hingga sekarang.

Menurut keterangan bahwa satu-satunya pusaka Tiongkok yang pertama kali di Indonesia yang dibawa oleh Tan Siang Boe pusaka tersebut yang tersimpan di Welahan sehingga ada perkataan lain bahwa keberadaan
 Klenteng Tertua Indonesia "Hian Thian Siang Tee" di Welahan adalah yang paling tua di Indonesia.

Dengan keberadaan klenteng yang berada di Welahan bukan hanya didominasi keturunan Tionghoa saja tetapi juga pribumi yang berdatangan dari berbagai kota maupun propinsi untuk memohon pengobatan, tanya nasib, jodoh, bercocok tanam, serta mohon maju dalam usahanya, dan sebagainya.

Perayaan Sam Poo Di Semarang


Bagi orang Tionghoa di Kota Semarang, ada sebuah tradisi perayaan tahunan yang selalu mereka lakukan untuk memperingati pendaratan Laksmana Cheng Ho atau Sam Poo Kong di Semarang. Secara historis, pendaratannya Cheng Ho di Semarang memang masih diperdebatkan, tetapi masyarakat Tionghoa di Semarang meyakini bahwa Laksmana Ceng Ho atau Sam Poo mendarat di Semarang pada bulan keenam dalam penanggalan Imlek.

Sebab itulah, setiap tanggal tersebut masyarakat Semarang merayakann tradisi yang sering disebut sebagai arak-arakan Sam Poo Besar ini. Tahun 2011, peringatan 606 kedatangan Laksamana Cheng Ho jatuh pada hari Sabtu (30/7). Dalam arak-arakan ini, warga Tionghoa mengusung patung (kim sien) duplikat Kong Co Sam Poo Tay Djien milik Kelenteng Besar Tay Kak Sie di Gang Lombok, menuju Kelenteng Agung Sam Poo Kong di Gedungbatu.

Sejak pagi pukul 04.00 WIB, ratusan orang sudah berdatangan di Klenteng Tay Kak Sie untuk mengikuti kirab tersebut. Tak hanya warga keturunan Tionghoa saja, tetap banyak pula warga pribumi yang turut serta dalam pawai tersebut, termasuk dari unsur TNI. Tepat pukul 05.00 WIB, pawai diberangkatkan dari klenteng tersebut. Peserta arak-arakan terbagi dalam beberapa rombongan, dengan peran berbeda. Pada barisan terdepan, adalah pembawa bendera Tay Kak Sie dan bendera kebesaran Sam Poo Tay Djien. Di belakangnya, ada pemain gambreng, pembawa papan bertuliskan "Shu King" (tenang dan jangan berisik) dan Hui Bi (minggir atau berjalan), pembawa pusaka tiruan, pengusung joli (tandu) kim sien (patung) Sam Poo Tay Djien, dan rombongan Bee-kun serta kuda putihnya. Sedangkan di barisan paling belakang adalah rombongan pemain liong sam si.

Selain itu, ribuan warga yang mengikuti Festival Bukan Bee-kun juga turut serta dalam arak-arakan tersebut. Mereka mengekan topeng Bee-kun, bandana, dan kaos berwarna hitam. Festival Bukan Bee-kun pada tahun ini merupakan yang pertamakali digelar dalam perayaan Sam Poo Besar. Festival ini diadakan tanpa mempengaruhi unsur ritual yang asli, sebab itu rombongan Bee-kun yang asli pun masih tetap ada. Secara etimologis Bee-kun berasal dari bahasa Hokian. ''Bhe'' berarti kuda, sedang ''kun'' adalah pasukan. Jika diterjemahkan secara bebas menjadi pasukan pengawal kuda. Kalangan Tionghoa mengintepretasikan bahwa pada saat turun dari kapalnya, Sam Poo Tay Djien berkendara kuda dan tentu saja ada orang yang merawatnya.

Dengan intepretasi semacam itu, profesi perawat kuda tepat digunakan sebagai gambaran pengorbanan dan kesetiaan kepadanya. Dari Klenteng Tay Kak Tse, rombongan tersebut menyusuri Gg Lombok - Gg Warung - Jl Kranggan Timur - Jl Kranggan Barat - Jl Depok - Jl Pemuda - Jl Mgr Soegijapranata - Jl Bojong Salaman, kemudian menuju Jl Simongan - dan berakhir di Klenteng Sam Po Kong.

Pawai ini menyita perhatian warga Semarang. Ratusan warga memadati jalan-jalan yang menjadi rute arak-arakan tersebut. Pawai ini juga sempat membuat arus lalu-lintas tersendat, karena tidak ada penutupan jalan di sepanjang rute yang dilalui. Sekitar pukul 07.30 WIB, rombongan sampai di Klenteng yang memiliki patung Sam Po Kong terbesar di dunia, dan baru saja diresmikan pada Jumat malam (29/7).

Sesampainya di Klenteng Agung Sam Po Kong, rombongan arak-arakan Sam Poo Besar kembali menyuguhkan atraksi. Beberapa pertunjukan pentas seni pun digelar, termasuk pertunjukan Punakawan dari Solo serta tarian Jawa dari Sobokarti Semarang.


Kameraman & Reporter: Diantika PW
Dubber: Diantika PW
Editor Video: Susiana